grebeg pasar Para pedagang mengenakan pakaian tradisional dan beragam kostum unik menyuguhkan atraksi saat mengikuti Grebeg Pasar di sepanjang jalan Malioboro hingga Pasar Ngasem, Yogyakarta, Kamis (05/10/2017). Karnaval yang diikuti oleh para pedagang pasar dan pusat ekonomi dari 30 pasar tradisional di Yogyakarta tersebut sebagai bentuk peringatan HUT ke-261 Kota Yogyakarta sekaligus promosi untuk menarik minat masyarakat agar tetap berbelanja di pasar tradisional di tengah maraknya pasar modern. (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)
Kamis, 5 Oktober 2017 23:55 WIB Beny Prasetya/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Meriah, 32 Pasar Ramaikan Grebeg Pasar 2017 

Bukan berhias sayur, buah, atau tas, Gunungan Pasar Klithikan malah bertempel helm bekas, onderdil bekas, sepatu, bahkan gitar akustik

Solopos.com, JOGJA-Grebeg Pasar berlangsung meriah. Lebih dari 2.000 peserta hadir untuk memeriahkan rangkaian acara HUT Kota Jogja ke 261 tersebut, Kamis (5/10/2017).

Sebanyak 2.000 peserta tersebut berasal dari 32 pasar tradisional dan pegawai dinas ikut berpatisipasi. Ketua Panitia Grebeg Pasar 2017 Budi Kusuma mengatakan, antusiasme pedagang dalam acara ini lebih dari yang diperkirakan. Di mana setiap pasar datang melebihi kuota maksimal yang berjumlah 30 peserta.

“Antusiasme luar biasa, dari Pasar Kota Gede membawa 100 orang, Pasar Terban 60 orang, dan masih banyak lagi,” jelas pria yang juga Ketua Paguyuban Pasar Tradisional Kota Jogja itu.

Dalam kegiatan tersebut, ada pula gunungan yang diperebutkan masyarakat. Ada yang berbeda dari gunungan itu. “Ada ayam [hidup], buah-buahan, sayuran, dan tas. Hal itu adalah ketentuan di mana setiap pasar wajib memberikan ciri khasnya dalam gununannya,” ujar dia.

Kegiatan ini memiliki dua tujuan yakni merayakan HUT Jogja ke-261 dan mempromosikan pasar tradisional. Pada momen ini, baik Jogja maupun Pasar tradional harus bisa lebih baik lagi.

Tidak hanya pedagang, masyarakat juga menyambut riang acara ini, buktinya Gunungan Pasar Klithikan sudah menjadi rebutan saat tiba di muka Pasar Ngasem pukul 16.00 WIB. “Jam lima tepat rayahan,” ujar Budi.

Wajar saja gunungan Pasar Klithikan menjadi rebutan. Bukan berhias sayur, buah, atau tas, Gunungan Pasar Klithikan malah bertempel helm bekas, onderdil bekas, sepatu, bahkan gitar akustik. “Ini apa adanya, kalau helm baru bukan Pasar Klithikan. Intinya kita memeriahkan Grebeg Pasar. Hal ini sudah menjadi tradisi di Pasar Klithikan untuk memeriahkan Grebeg Pasar. Saya berharap acara seperti ini sering diadakan,” ungkap Muhammad Sutrisno yang lebih suka dipanggil Ceker.

Elvin Rinaldi, 25, yang mengikuti proses rayahan mengatakan ia sekedar ingin ikut berkompetisi saja. “Senang dapat speaker,” jelasnya setelah ikut berdesakan bersama masyarakat lain.

Selain Gunungan, atraksi dan kostum juga diberikan penilaian. Hasilnya Juara 1 Kontingen Pasar Pasty, Juara 2 Pasar Kota Gede, dan Juara 3 Pasar Kranggan.

Walikota Jogja Haryadi Suyuti mengatakan, masyarakat harus meramaikan dengan berbelanja di pasar tradisional. “Belanja di pasar tradisional,” jelas Haryadi.

Sebelum sampai di Pasar Ngasem, para peserta mengikuti kirab terlebih dahulu. Rute yang dilalui 32 kontingen Disperindag dan pedagang pasar yakni dari Pasar Beringharjo sekitar pukul 14.00 WIB. Selanjutnya 32 kontingen mengular ke arah Jl KH Ahmad Dahlan dan menyusuri Jl Nyi Ahmad Dahlan.

lowongan pekerjaan
SUNAN TOUR AND TRAVEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…