Sejumlah pekerja seni membuat tembok sebagai salah satu bagian patung dari karya Yulhendri berjudul Kuat dalam Proyek seni Jogja Street Scupture Project (JSSP) 2017 "Jogjatopia" di kawasan Stadion Kridosono, Kotabaru, Yogyakarta, Selasa (03/10/2017). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah pekerja seni membuat tembok sebagai salah satu bagian patung dari karya Yulhendri berjudul Kuat dalam Proyek seni Jogja Street Scupture Project (JSSP) 2017 "Jogjatopia" di kawasan Stadion Kridosono, Kotabaru, Yogyakarta, Selasa (03/10/2017). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 5 Oktober 2017 13:55 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Menghidupkan Kembali Suasana Kotabaru Melalui Karya Patung

Ada yang berbeda di sekitar Kotabaru, Gondokusuman, sejak tiga hari terakhir

Solopos.com, JOGJA– Ada yang berbeda di sekitar Kotabaru, Gondokusuman, sejak tiga hari terakhir. Puluhan patung menghiasi kawasan tersebut di tepi jalan raya.

Patung-patung tersebut merupakan karya dari Asosiasi Pematung Indonesia (API) yang ingin mengembalikan Kotabaru sebagai kawasan warisan budaya yang menampilkan kembali fungsi boulevard.

Misalnya saja patung becak berdiri karya Hari Susanto. Patung tersebut mengingatkan kembali pada era tahun 70an dimana masih banyak becak bersliweran di wilayah Kota Baru. Cara naik becak pun berbeda dengan kebanyakan becak saat ini, “Dulu kalau ada orang naik becak, becanya diberdirikan supaya mudah naik,” ucap salah satu kurator dalam JSSP ini, Greg Wuryanto, Rabu (4/10/2017).

Kemudian juga ada patung yang di dalamnya memuat nama-nama pahlawan asal Kotabaru yang gugur dalam berjuang. Patung tersebut adalah karya Lenny Weichert.

Lalu, di timur Stadion Mandalakrida juga ada patung gambar sepeda karya Suparman asal Jogja. Sepeda yang terbuat dari besi dengan panjang sekitar 1,5 meter dan tinggi satu meter itu dilengkapi dengan tempat parkir sepeda. Namun, kedua roda sepeda tersebut digembok.

Suparman terinspirasi membuat karya tersebut bermula dari kesulitannya meletakkan sepeda ketika parkir di suatu tempat. Hampir tidak ada ruang khusus untuk parkir sepeda yang aman.

“Pesan ini mengajak agar ada perhatian khusus para pesepeda,” ucap Suparman. Namun di sekitar sepeda ia tidak memberikan penjelasan, Suparman membebaskan masyarakat untuk menginterpretasikan dari hasil karyanya.

Ada juga patung dalam bentuk sumur di sisi utara Stasion Kridosono. Sumur dengan diameter 70 sentimeter itu terbuat dari batu bata, pasir, dan semen. Dari bibir sumur terdapat gambar manusia yang sedang melihat ke dalam sumur. Dalam sumur terdapat cermin, tali timba, dan ember yang terbuat dari seng.

Patung tersebut merupakan karya dari Wahyu Santoso. Ia membutuhkan waktu dua bulan untuk membuat patung tersebut. Meski saat ini sudah jarang sumur timba, namun baginya sumur bagian dari peradaban yang tak bisa dilupakan. Wahyu sengaja menambahkan cermin sebagai pesan agar manusia bisa berkaca pada diri sendiri dimana dia tinggal.

Dan masih banyak patung lainnya yang dibuat sesuai imajinasi para pembuatnya dengan berbagai tema. Terlepas dari itu, karya patung tersebut dipasang di Kotabaru tidak seketika, namun ada kritik yang ingin disampaikan bahwa kawasan Kotabaru perlu dihidupkan kembali.

Kotabaru dalam dalam sejarahnya merupakan tempat hunian orang Belanda yang mengedepankan konsep garden city dengan banyak fasilitas publik yang dipenuhi jaringan boulevard Diluar bangunan-bangunan yang bercorak Hindia Belanda, Kotabaru merupakan satu-satunya yang memiliki boulevard, namun kini kurang berfungsi dengan baik, seiring perkembangan zaman.

“Hanya kota baru yang tata bangunannya menjadikan ruang publik sebagai episentrum, walau pun banyak bangunan dan komersial namun ada jaringan boulevard atau taman-taman yang bisa dilalui pejalan kaki,” ujar Greg.

Sayangnya saat ini ruang-ruang publik tersebut tidak termanfaatkan dengan baik. Banyak pot-pot bunga yang tidak tertata dengan rapi, bahkan justeru menghalangi pemandangan. Beberapa trotoar yang tidak berfungsi karena banyak pohon dan lampu yang dipasang di tengah trotoar sehingga sulit diakses.

Akibatnya, orang yang melintas Kotabaru hanya sekadar melintas tanpa merasakan nilai sejarahnya di Kotabaru, bahkan kurang nyaman dilintasi.

Greg berharap patung-patung tersebut bisa meramaikan kembali ruang publik. “Harapannya patung-patung ini sebagai eksperimen terwujudnya kembali ruang interaksi, menjadikan ruang publik sebagai ruang dialog yang nyaman,” katanya.

Ketua Panitia JSSP 2017, Hedi Hariyanto mengatakan pameran patung di Kotabaru merupakan kelanjutan pameran serupa di Jalan Margo Utomo, dua tahun silam, kemudian bergeser ke Keleringan sampai Kotabaru. Sebanyak 54 patung yang ditampilkan hanya sampai 10 Januari mendatang.

Patung-patung tersebut beberapa juga melibatkan seniman dari luar negeri, di antaranya dari Thailand dan Jepang. Karya tersebut sengaja di gelar di Kotabaru untuk menghidupkan kawasan tersebut. Ia berharap pameran ini dapat mengetuk pemerintah untuk menata kembali ruang publik di kawasan Kotabaru.

Semi Pedestrian

Harapan para seniman patung ini ternyata sejalan dengan rencana Pemerintah Kota Jogja. Bahkan Pemerintah Kota Juga sudah memiliki desain penataan Kawasan Kotabaru yang menghidupkan kembali ruang-ruang publik. Rencana penataan akan diawali mulai tahun depan.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan penataan kawasan Kotabaru akan dilakukan secara bertahap karena mempertimbangkan dampak sosial. Penataan akan diawali dengan mengubah sejumlah taman menjadi semi pedestrian terutama di Jalan Faridan Muridan dan Jalan Suroto.

“Kita akan buat semi pedestrian, kami akan coba menghidupkan kembali ruang-ruang mati menjadi ruang publik yang hidup” kata dia.

Menurut Heroe ruang-ruang publik itu nantinya juga bisa dimanfaatkan untuk memamerkan berbagai karya, salah satunya karya patung agar bisa dinikmati oleh masyarakat.

Selain itu, Heroe untuk menghidupkan kembali Kotabaru, ia juga berencana memberikan penanda khusus di situs-situs bersejarah dengan harapan agar ada ruang edukasi bagi masyarakat ketika berkunjung ke Kotabaru.

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…