Hari Apoteker Sedunia Ketua Pelaksana Kampanye Memerangi Obat Ilegal sekaligus memperingati Hari Apoteker Sedunia Hendy Ristiono (tengah) bersama Humas kegiatan Aji Winanta (dua kiri) ketika berkunjung ke Griya Harian Jogja didampingi Redaktur Pelaksana Harian Jogja Nugroho Nurcahyo (dua kanan), Jogja, Kamis (5/10/2017). (Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah)
Kamis, 5 Oktober 2017 20:20 WIB Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Kompak, Apoteker DIY Ajak Masyarakat Memerangi Obat Ilegal

Masyarakat diajak untuk mengikuti senam anti anemia pukul 06.30 WIB

Solopos.com, JOGJA-Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DIY mengajak masyarakat untuk ikut serta memerangi obat ilegal dalam event Kampanye Memerangi Obat Ilegal sekaligus memperingati Hari Apoteker Sedunia di Titik Nol Kilometer dan Monumen Serangan Umum 1 Maret, Jogja, Minggu (8/10/2017).

Ketua pelaksana kegiatan Hendy Ristiono mengungkapkan, melalui kegiatan ini, IAI ingin menunjukkan apoteker juga prihatin dengan adanya obat ilegal. Oleh karena itu, mereka ingin menujukkan kekompakan dan mengajak masyakat untuk memerangi obat ilegal.

“Akan ada ikrar dari apoteker untuk memerangi obat ilegal. Sebagai apoteker, kami juga peduli dengan masalah ini,” ungkap dia kepada Harian Jogja ketika mengunjungi Griya Harian Jogja, Jogja, Kamis (5/10/2017).

Ia menjelaskan, kegiatan yang dikemas sekaligus untuk memeriahkan HUT Jogja itu akan berisi banyak kegiatan. Masyarakat diajak untuk mengikuti senam anti anemia pukul 06.30 WIB. Kegiatan dilanjutkan dengan pengucapan ikrar dan pengabdian masyarakat.

“Pengabdian ini kami wujudkan dengan edukasi kepada masyarakat di sekitar lokasi mengenai obat ilegal dan anemia. Kami ingin berbagi pengetahuan. Nanti juga ada talkshwo di Taman Pintar,” ungkap dia.

Ia menyebutkan, istilah obat ilegal dalam hal ini memiliki beberapa kategori. Pertama, obat ilegal bisa berarti karena produsen yang bermasalah lantaran tidak memiliki izin. Kedua, produsen bisa saja berizin, tetapi obat yang diproduksi tidak memiliki izin edar. Ketiga, ilegal dari distribusinya misalnya peredaran obat keras yang harus pakai resep dokter sehingga tidak bisa diperjualbelikan dengan bebas. Ada pula obat yang memang harus diberikan langsung oleh apoteker karena tergolong obat keras.

“Saran kami, kalau mau membeli obat ya di tempat yang resmi seperti apotek, puskesmas, rumah sakit,” imbuh dia.

Ia menyebutkan, kegiatan ini akan diramaikan sebanyak 1.100 apoteker dari 1.800-an apoteker di DIY. Jumlah tersebut menunjukkan kekompakan para apoteker dalam meramaikan acara ini. Sebelumnya, setiap pengurus cabang telah membuat acara masing-masing di kabupaten dan kota. Acara ini merupakan puncak peringatan Hari Apoteker Sedunia yang jatuh pada 25 September lalu.

Humas Kegiatan tersebut Aji Winanta mengatakan, kesadaran masyarakat untuk membeli obat di apotek semakin tinggi. “Justru ada kasus PCC kemarin, malah membuat masyarakat semakin hati-hati dalam membeli obat dan mereka lebih memilih apotek,” ungkap dia.

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…