GPH Puger KGPH Puger (JIBI/Solopos/Dok)
Kamis, 5 Oktober 2017 17:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

KERATON SOLO
Adik PB XIII Keluhkan Akses Sejumlah Lembaga Adat Masih Ditutup

Sejumlah lembaga adat Keraton Solo masih ditutup dan belum berfungsi sebagai pelestari tradisi.

Solopos.com, SOLO — Sejumlah lembaga adat di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat diketahui masih ditutup dan belum bisa menjalankan fungsi kebudayaan kendati konflik internal Keraton diklaim sudah selesai setelah tingalan jumenengan Paku Buwono (PB) XIII, April lalu.

Masih ditutupnya akses ke sejumlah lembaga adat ini diungkapkan beberapa adik PB XIII. Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, lembaga adat yang hingga saat ini belum berfungsi lagi antara lain Sasana Pustaka, Sanggar Pasinaon Pambiwara yang merupakan tempat belajar master of ceremony (MC) berbahasa Jawa, Sanggar Latihan Beksan (tari), termasuk latihan gamelan untuk abdi dalem. (Baca: Tim Asistensi Bentukan PB XIII Pastikan Takkan Ada UPT)

Salah satu adik PB XIII, K.G.P.H. Puger, yang juga Pengageng Sasana Pustaka Keraton Solo, berharap badan pengelola Keraton yang sedang dibentuk pemerintah bisa menjadi solusi agar sanggar-sanggar tempat nguri-uri budaya Jawa itu bisa diakses kembali.

Sayangnya, hingga saat ini nasib akhir pembentukan badan pengelola itu belum diketahui jelas arahnya. “Ya, sekarang ini kan masih rapat-rapat terus, menunggu kesepakatannya nanti seperti apa. Harapannya kalau ada pengelolaan yang baik, ada penataan, tempat-tempat publik ini bisa kembali diakses,” kata Puger saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (5/10/2017).

Sasana Pustaka tak bisa diakses saat konflik di internal Keraton memanas, April lalu. Saat itu, Keraton termasuk museum ditutup untuk umum hingga akhirnya pada tingalan jumenengan PB XIII, 22 April, Museum Keraton kembali dibuka. “Nah yang Sasana Pustaka ini sampai sekarang masih tutup,” kata dia.

Saat ditanya siapa pihak yang paling bertanggung jawab dan berwenang membuka kembali perputakaan tersebut, dia menjawab tidak tahu. “Saya enggak ngerti, tapi saya minta perhatian dari Raja [PB XIII]. Beberapa kali saya sampaikan, di Keraton ini ada tempat yang jadi bagian dari kepentingan pendidikan. Tahun 1963 PB XII mempersilakan Sasana Pustaka bisa diakses umum demi ikut mencerdaskan bangsa. Harapannya ini juga menjadi perhatian Raja,” papar Puger.

Tutupnya Sasana Pustaka selama berbulan-bulan, kata Puger, berdampak luar biasa terutama bagi mahasiswa atau peneliti yang sedang melakukan penelitian di Sasana Pustaka. “Jumlahnya ada berapa itu, banyak sekali. Jadi banyak penelitian mahasiswa yang tertunda, sampai kelulusannya tertunda, ada yang harus mengulang lagi dari nol, karena masalah ini.”

Seperti diketahui, Sasana Pustaka menyimpan khazanah pustaka yang tak terkira nilainya tentang berbagai macam ilmu pengetahuan di masanya. Di samping buku-buku cetak, juga menyimpan manuskrip kuno kurang lebih 150.000 halaman, 1.447 judul, dari 696 valume. Buku-buku tentang Dinasti Mataram lengkap tersedia di perpustakaan tersebut.

Adik PB XIII lainnya, G.R.Ay. Koes Moertiyah atau Mbak Moeng, juga menyayangkan kondisi ini. “Ini mulai pekan depan yang latihan pambiwara saya pindah ke tempat saya [Ndalem Kayonan],” kata Moeng sembari menunjukkan deretan meja-meja panjang yang sudah di tata di pendapa kediamannya.

Menurut Moeng, jika sanggar-sanggar latihan termasuk Sasana Pustaka tetap ditutup seperti sekarang ini, Keraton bisa kehilangan kekuatannya sebagai penjaga dan pelestari budaya Jawa. Dia menuding penutupan akses lembaga adat itu dilakukan orang dekat PB XIII.

“Saya itu heran. Baru kali ini yang namanya latihan tari Bedaya Ketawang itu disuwak [diliburkan].”

Seingat Moeng, akses ke sejumlah lembaga adat itu ditutup sejak April lalu. “Saya pernah minta agar sanggar tari dan pambiwara itu dibuka lagi, tapi enggak boleh. Saya sendiri enggak diperbolehkan masuk.”

 

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…