Salah seorang petani mengambil air dari Telaga Palgading di Dusun Tlogowarak, Giripurwo, Purwosari. Telaga ini sering dimanfaatkan warga untuk mengatasi krisis air saat musim kemarau. Foto diambil beberapa waktu lalu. (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Salah seorang petani mengambil air dari Telaga Palgading di Dusun Tlogowarak, Giripurwo, Purwosari. Telaga ini sering dimanfaatkan warga untuk mengatasi krisis air saat musim kemarau. Foto diambil beberapa waktu lalu. (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 5 Oktober 2017 11:40 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

KEKERINGAN GUNUNGKIDUL
Ada Sumber Air Melimpah tapi Tetap Kekeringan

Gunungkidul memiliki sumber air yang melimpah namun belum dimanfaatkan.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL— Pemkab Gunungkidul perlu memanfaatkan sumber air yang melimpah di wilayah ini untuk mengatasai kekeringan. Sedangkan pengedropan air dinilai tak menyelsaikan masalah kekeringan.

Anggota DPRD Gunungkidul dari Fraksi Golkar Ery Agustin Sudiyati mengkritisi cara pemkab untuk mengatasi masalah kekeringan. Baginya, pemberian bantuan air bersih yang selama ini dilakukan Pemkab bukan solusi. Sebab kebijakan itu hanya langkah praktis dalam memenuhi kebutuhan air dalam jangka pendek.

“Pemerintah harus lebih serius lagi mengatasi masalah krisis air yang terus terjadi setiap tahunnya,” kata Ery Rabu (4/10/2017). Menurut dia, permasalahan kekeringan dapat diatasi karena dari sisi potensi, wilayah Gunungkidul memiliki sumber dari sungai bawah tanah yang sangat melimpah. Ery pun mencontohkan, salah satu sumber tersebut berada di kawasan Laut Bekah, Desa Giripurwo, Purwosari. Di lokasi itu terdapat salah satu sumber dengan debit air mencapai 800 liter per detik. Namun demikian, potensi ini belum dimanfaatkan sehingga air terbuang percuma ke laut.

Dia pun menganggap potensi air yang terbuang ini sebagai suatu hal yang ironi. Pasalnya, mayoritas warga di Kecamatan Purwosari mengalami krisis air saat musim kemarau. “Coba itu dimanfaatkan, pasti warga tidak akan kekurangan air. Saya sudah sering mengingatkan masalah ini sejak menjadi anggota DPRD 2009-2014, tapi nyatanya hingga sekarang belum ada tindak lanjut pasti untuk mengatasi masalah air,” katanya.

Lebih jauh dikatakan Ery, sumber air di kawasan Laut Bekah hanya salah satu contoh. Sebab di lokasi lain masih banyak sumber sungai bawah tanah di Gunungkidul yang belum dimanfaatkan. Diakuinya, untuk pengangkatan air sungai bawah tanah memang membutuhkan biaya yang sangat besar. Namun, sambung dia, pemkab tidak perlu khawatir karena Pemerintah Pusat memiliki komitmen untuk memberikan antuan dalam upaya mengatasi kekeringan yang menjadi masalah klasik di Gunungkidul.

“Yang terpenting adalah niat yang disertai dengan pembuatan proposal program ke Pusat. Mereka pun siap, karena beberapa kali konslutasi ke kementerian sudah memberikan lampu hijau untuk memberikan bantuan,” ujarnya.

Kepala Dusun Temon, Desa Giripurwo Tukijan membenarkan jika di wilayahnya terdapat sumber mata air di Laut Bekah yang belum dimanfaatkan. Dia mengungkapkan, di tahun lalu ada penelitian yang dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak di lokasi, namun hingga sekarang belum ada tindak lanjut untuk pemanfaatan. “Harapan kami bisa dikelola sehingga masalah krisis air dapat diatasi dan warga tidak lagi membeli saat musim kemarau,” kata Tukijan.

lowongan pekerjaan
PT.SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…