Daniel Lie (tengah) saat berbincang-bincang dengan awak media di Warung Bu Ageng, Selasa (4/10/2017). ( I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja) Daniel Lie (tengah) saat berbincang-bincang dengan awak media di Warung Bu Ageng, Selasa (4/10/2017). ( I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 5 Oktober 2017 10:55 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Biennale Jogja XIV Equator #4, dari Ketidakpastian Menuju Harapan

Biennale Jogja XIV Equator #4 yang akan digelar pada tanggal 2 November hingga 10 Desember 2017 mengambil tema utama yang bertajuk Stage of Hopelessness

 
Solopos.com, JOGJA-Biennale Jogja XIV Equator #4 yang akan digelar pada tanggal 2 November hingga 10 Desember 2017 mengambil tema utama yang bertajuk Stage of Hopelessness (baca : Age of Hope). Tema ini akan direspon dalam empat program utama, yakni Festival Equator, Main Exhibition, Parallel Events dan Biennale Forum.

Kurator Biennale Jogja XIV Equator, Pius Sigit Kuncoro mengatakan tema tersebut muncul ketika dirinya dan tim Biennale Jogja mengunjungi Brasil untuk pertama kalinya pada November 2016. Saat itu, sebutnya, ia menemukan momen estetik dalam Sao Paulo Biennial ke-32 yang mengedepankan tema tentang ketidakpastian hidup.

“Perhelatan ini tidak hanya merefleksikan persoalan ketidakstabilan politik ekonomi karena momen traumatik dari pergantian kekuasaan di Brazil yang terjadi pada tahun sebelumnya, tetapi juga mengetengahkan persoalan ekologi sebagai pangkal persoalannya,” jelasnya kepada wartawan di Warung Bu Ageng, Jalan Tirtodipuran, Selasa (4/10/2017).

Pius melanjutkan, ketidakstabilan politik di Brasil yang ditandai dengan diturunkannya Presiden Brasil secara tidak terduga punya kemiripan dengan apa yang terjadi di DKI Jakarta lewat berbagai aksi yang menuntut pelengseran dan penahanan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama karena dianggap menista agama.

Dari hal-hal tersebut, ia menyimpulkan sebenarnya ketidaksadaranlah yang menggerakan kita bukan kesadaran itu sendiri. Hal ini terbalik dari yang dipikirkan orang pada umumnya bahwa kesadaranlah yang mengendalikan hidup. “Yang mengendalikan kita adalah sesuatu yang diluar nalar,” katanya.

Berangkat dari hal tersebutlah, ucap Pius, Biennale Jogja XIV Equator #4 mengangkat tema Stage of Hopelessness yang hendak menjawab persoalan ketidakpastian hidup yang telah membuat manusia tidak berani untuk berharap karena kenyataan semakin sulit untuk dipahami. Narasi besar ini akan mengajak masyarakat pada suatu pengalaman melintas dari ketidakpastian menuju harapan.
Empat Program

Program yang akan mengawali hajatan Biennale XIV Equator #4 adalah Festival Equator yang berlangsung dari tanggal 10 Oktober hingga 2 November 2017. Festival Equator mengangkat tema Organizing Chaos atau kumpulan kekacauan yang tertata.

Organizing Chaos kata Pius, ditempatkan sebagai upaya untuk memunculkan kesadaran baru melalui peristiwa yang tak wajar pada umumnya dan dilangsungkan pada ruang publik yang terlupakan, guna mengingatkan kembali momen-momen traumatik di masa lalu dengan mengaitkannya pada konteks Jogja hari ini.

“Memainkan ingatan masa lalu akan sebuah momen traumatik ini menjadi titik berangkat untuk memunculkan kesadaran baru. Dari hal-hal yang sifatnya traumatic tersebutkan kita akan kembali pada jati diri. Contohnya, peristiwa Pilkada DKI Jakarta membuat masyarakat kembali membicarakan tentang Pancasila dan keberagaaman,” ucap Pius.

Setelah Festival Equator, kemudian rangkaian acara Biennale Jogja XIV Equator #4 akan beralih pada Main Exhibition yang berlangsung tanggal 2 November hingga 10 Desember 2017 di Jogja Nasional Museum (JNM). Pameran utama tersebut akan menghadirkan 27 seniman Indonesia dan 12 seniman Brasil.

Pada pameran utama tersebut, ada tujuh narasi yang dicakup yaitu penyangkalan atas kenyataan, kemarahan pada keadaan, keputusasaan atas kehilangan, kepasrahan dalam ketiadaan penghiburan atas kehilangan, kesadaran pada keadaan dan penerimaan atas kenyataan.

Selain dua acara tersebut, Biennale Jogja juga akan melangsungkan Paralle Event dan Biennale Forum dengan tema Managing Hope. Koordinator Biennale Forum, Lisistrata mengatakan setelah ada organizing chaos, afirmasi diri, kemudian ada pengelolaan harapan kemudian akan muncul pertanyaan, harapan mana yang harus dikelola.

“Dalam Biennale Forum itulah kita akan tahu harapan yang seperti apakah yang harus kita kelola. Kami mengemban visi misi bagaimana mengontekstualisasikan seni di tengah masyarakat khatulistiwa menjadi beberapa tema diskusi yang menyentuh kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Biennale Jogja akan menghadirkan 12 seniman Brasil sebagai penampil.

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…