Juru pelihara museum menjamas (mencuci) pusaka di Museum Radyapustaka, Solo, Kamis (5/10/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos) Juru pelihara museum menjamas (mencuci) pusaka di Museum Radyapustaka, Solo, Kamis (5/10/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)
Kamis, 5 Oktober 2017 21:35 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

16 Pusaka Berusia 200-An Tahun Koleksi Radya Pustaka Solo Dijamasi

Pengelola Museum Radya Pustaka Solo menjamasi 16 pusaka.

Solopos.com, SOLO — Di serambi belakang Museum Radya Pustaka Solo, Kamis (5/10/2017) pagi, beberapa orang kurator pusaka berkumpul dan sibuk mempersiapkan sesaji untuk ritual jamasan (mencuci) pusaka.

Tak berselang lama, uborampe sesaji seperti bunga telon, hasil bumi seperti pisang raja setangkep, pala pendem, pala gemantung, dan pala rambat, siap mengawal ritual yakni mencuci 16 senjata pusaka koleksi museum. Enam belas pusaka itu meliputi keris, tombak, pedang, dan cundrik.

“Ini adalah pusaka yang menurut catatan kami adalah pusaka peninggalan Mataram entah tahun berapa, ada pula peninggalan zaman Buddha, perkiraan kami pusaka-pusaka yang dijamasi kali ini usianya sudah lebih dari 200 tahun,” kata Kepala UPT Museum Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Solo, Bambang M.B.S., saat berbincang dengan Solopos.com, di sela-sela acara.

Keenam belas pusaka itu diketahui telah dikeluarkan dari ruang pusaka sejak tiga hari sebelum ritual jamasan. Pusaka-pusaka itu harus direndam dulu selama tiga hingga empat hari dalam air kelapa agar kotoran-kotoran yang menempel pada pusaka itu luntur sehingga mudah dibersihkan saat ritual jamasan berlangsung. “Kebetulan enam belas pusaka ini rata-rata sudah 20-an tahun tidak dijamasi,” ujar Bambang.

Dalam peringatan Sura tahun ini, enam belas pusaka itu mendapat giliran untuk dicuci. Di Radya Pustaka tersimpan lebih dari 270 buah tosan aji dengan usia tosan aji tertua sekitar 300 tahun.

Pengelola museum tidak bisa sekaligus melakukan jamasan untuk ratusan pusaka itu. “Jadi memang kami lakukan bertahap. Selain Sura, kami juga rutin membersihkan pusaka tiap 3-4 bulan sekali.”

Ritual jamasan dimulai dengan doa, sebagai bentuk permohonan izin atau kulanuwun serta meminta perlindungan kepada Tuhan YME. “Dengan doa, harapannya petugas jamasan ini bisa akrab dengan energi yang ada dalam benda-benda itu,” imbuh Bambang.

Setelah itu, pusaka digosok dengan ramuan air kelapa, jeruk nipis, buah pace, dan abu, hingga kotorannya hilang. Selanjutnya, pusaka yang telah bersih digosok lagi dengan cairan warangan.

Cairan berisi mineral yang mengandung arsenik itu mempu membuat pamor atau gurat di tubuh keris kembali terlihat menonjol. “Arsenik ini mampu memisahkan warna besi dan nikel, jadi pamornya nanti terlihat lagi. Saat proses ini harus benar-benar berhati-hati lantaran arsenik mengandung racun yang kuat. Untuk mendapatkan arsenik ini juga ada prosedur yang harus kami lalui.”

Perawatan benda pusaka ini harus sempurna. Jika tidak sempurna, kata Bambang, saat pusaka itu kembali disimpan akan muncul jamur atau tanaman rambat, hanya dalam waktu yang tidak lama.

Jamasan pusaka kemarin sempat menarik perhatian pengunjung museum tertua di Indonesia yang berdiri pada 1890 itu. Beberapa pengunjung menyempatkan diri melihat prosesi jamasan.

Pengunjung asal Sukoharjo, Setiawan, mengaku begitu penasaran dan ingin mengetahui secara detil seluk beluk atau sejarah pusaka-pusaka yang dijamasi. “Namun di sini kami hanya melihat. Tapi senang sekali, saat berkunjung pas ada prosesi jamasan,” tutur dia.

lowongan pekerjaan
SUNAN TOUR AND TRAVEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…