Sejumlah PSK yang terjaring razia diberi pembinaan di Kantor Satpol PP Sragen, Selasa (3/10/2017). ( Istimewa/Sugeng Priyono/Satpol PP Sragen) Sejumlah PSK yang terjaring razia diberi pembinaan di Kantor Satpol PP Sragen, Selasa (3/10/2017). ( Istimewa/Sugeng Priyono/Satpol PP Sragen)
Rabu, 4 Oktober 2017 18:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

RAZIA SRAGEN
Tim Gabungan Jaring 6 PSK dan 3 Pasangan Selingkuh

Tim gabungan Pemkab Sragen menjaring 6 PSK dan 3 pasangan selingkuh saat razia.

Solopos.com, SRAGEN — Tim gabungan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya dan TNI/Polri Sragen menggelar operasi pekat pada Senin-Selasa (2-3/10/2017).

Operasi tim gabungan tersebut berhasil menjaring enam pekerja seks komersial (PSK), tiga pasangan tidak resmi, dan enam anak punk. Operasi pekat digelar di seputar Pasar Nglangon, Hotel Sukowati, areal persawahan Mahbang, Desa Karanganyar, Sambungmacan, Pasar Bunder, dan Pasar Nglangon.

Operasi pertama digelar pada Senin (2/10/2017) malam hingga Selasa (3/10/2017) dini hari. Operasi tersebut dipimpin Kabid Ketenteraman Ketertiban Masyarakat dan Linmas Satpol PP Sragen Sugeng Priyono.

“Operasi pekat tersebut melibatkan Dinas Sosial, Badan Kesbangpol, Polres, Kodim, dan Subdenpom Sragen. Kami berhasil menggaruk lima PSK di Pasar Nglangon. Mereka terdiri atas Sr, 37, warga Widodaren, Ngawi; Mr, 46, warga asal Sambirejo, Sragen; Ml, 23, warga Miri; Sy, 39, warga Ponorogo, dan Sw, 42, warga Grobogan,” ujar Sugeng mewakili Kasatpol PP Sragen, Tasripin, saat bertemu Solopos.com, Rabu (4/10/2017) siang.

Sugeng melanjutkan operasi pekat di Hotel Sukowati menjaring tiga pasangan tidak resmi, di antaranya AS, 54, asal Sragen dengan SW, 34, asal Grobogan. Sementara satu PSK lainnya yang tertangkap di areal persawahan Dukuh Mahbang, Desa Karanganyar, Sambungmacan, Sragen, atas nama Wn, 42, warga Sambirejo.

“Semua PSK dan pasangan selingkuh yang terjaring dibawa ke Satpol PP Sragen untuk didata dan dibina. Selanjutnya mereka diminta membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari. Khusus PSK Wn, 42, asal Sambirejo, langsung dikirim Panti Wanita Utama Solo,” ujarnya.

Setelah operasi pekat, Sugeng memerintahkan tim Satpol PP melakukan operasi pekat dengan sasaran gepeng dan anak punk. Dia mengatakan operasi pada Selasa siang dilakukan di Pasar Nglangon, Pasar Bunder, dan Pasar Kota.

Dia mengatakan dalam operasi tim Satpol PP itu menangkap enam anak punk dan seorang pengemis. “Enam anak punk terdiri atas lima laki-laki dan seorang perempuan. Mereka berasal dari Jawa Timur. Setelah dibina dan diberi pengarahan oleh Kepala Satpol PP, mereka dikembalikan ke daerah asal,” ujarnya.

 

lowongan pekerjaan
PT. Jaya Sempurna Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…