Pohon Randu Alas di tepi jalan raya Randusari-Klaten, Desa Nepen, Boyolali, tumbang pada Selasa (3/10/2017). (Aries Susanto/JIBI/Solopos) Pohon Randu Alas di tepi jalan raya Randusari-Klaten, Desa Nepen, Boyolali, tumbang pada Selasa (3/10/2017). (Aries Susanto/JIBI/Solopos)
Rabu, 4 Oktober 2017 17:35 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Pohon Setinggi 25 Meter Berusia 100 Tahun Tumbang, Jalan Randusari-Klaten Sempat Macet

Pohon setinggi 25 meter berusia 100 tahun di jalan Randusari-Klaten tumbang melintang di jalan.

Solopos.com, BOYOLALI — Pohon tua itu tak kuat lagi menahan beban tubuhnya. Akar-akarnya tercerabut dari tanah, mendongak seperti cumi-cumi raksasa.

Tubuh kekarnya roboh, menghancurkan sejumlah bangunan, seperti tugu, tembok, beton tiang listrik, serta sejumlah pohon dan batu nisan di bawahnya.

“Untung, tak ada korban jiwa. Padahal, jalan raya Randusari-Klaten cukup padat,” ujar Supriyadi, saksi mata tumbangnya pohon raksasa itu saat berbincang dengan Solopos.com di lokasi kejadian di Dukuh Indrakila, Desa Nepen, Teras, Boyolali, Rabu (4/10/2017).

Saat pohon itu tumbang, Selasa (3/10), Supriyadi berada tepat di seberang jalan barat pohon itu. Siang itu, sekitar pukul 14.00 WIB, tak ada hujan dan tak ada angin. Tiba-tiba, Supriyadi mendengar suara keras dari sebuah makam tak jauh darinya.

Setelah ia tengok, bulu kuduknya langsung merinding. Sebuah pohon raksasa setinggi 25-an meter ambruk melintang di badan jalan. Tembok dan gapura jalan hancur seketika.

Listrik padam setelah beton penyangga kabel listrik hancur berkeping-keping. Orang-orang berhamburan mendekat. Lalu lintas macet total. “Kemacetan cukup panjang saat itu. Petugas dan warga bahu membahu memotong dan menyingkirkan pohon ini,” jelasnya.

Supriyadi selamat dalam insiden itu. Pun demikian sejumlah pengendara yang melintasi jalan raya tersebut. Namun, tumbangnya pohon itu benar-benar membuatnya terkesiap.

“Andai menimpa truk sekali pun, pasti hancur truknya. Subhanallah,” ucapnya.

Randu Alas, demikian nama pohon tua itu. Berdasarkan keterangan warga setempat, pohon itu merupakan satu di antara sedikit pohon-pohon tua berusia di atas 100 tahun di Kecamatan Teras. Untuk bisa mengukur lingkar batangnya, setidaknya dibutuhkan tujuh orang yang saling bergandengan tangan.

“Tingginya sekitar 25 meteran. Di dukuh ini, pohon ini merupakan pohon terbesar dan tertua,” jelas Andreas, warga Nepen Teras.

Andreas dan warga lainnya menduga, tumbangnya pohon itu disebabkan akar-akarnya yang sudah rapuh. Pohon ini menjulang di tengah ratusan batu nissan di area permakaman Indrakila, Nepen, Teras.

Tumbangnya Randu Alas menambah daftar pohon tua yang tumbang di Desa Nepen. “Satu di antara pohon tua di Nepen adalah yang tumbang ini,” jelas Siswanto, warga Nepen lainnya.

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…