Sri Murniyati, 50, PNS Kota Madiun menunjukkan batik kreasinya di galeri Batik Murni Jl. Halmahera No. 21, Kelurahan Kartoharjo, Kota Madiun, Senin (2/10/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Sri Murniyati, 50, PNS Kota Madiun menunjukkan batik kreasinya di galeri Batik Murni Jl. Halmahera No. 21, Kelurahan Kartoharjo, Kota Madiun, Senin (2/10/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Rabu, 4 Oktober 2017 05:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

Penggagas Batik Pecel Madiun Ingin Populerkan Batik Warna Alam

Hari Batik Nasional diaplikasikan dengan lebih mencintai dan menggunakan batik.

Solopos.com, MADIUN — Bagi Sri Murniyati, 50, pemilik butik Batik Murni Madiun, berbicara soal batik tidak hanya fashion maupun tren semata. Namun, lebih dari itu berbicara soal batik erat kaitannya dengan makna filosofi dan penguatan karakter daerah.

Murni yang merupakan penggagas motif batik pecel Madiun bertahan untuk terus berinovasi dengan berbagai hal yang berkaitan dengan Madiun. Beberapa waktu lalu, dia juga membuat motif batik kereta api yang menjadi salah satu ikon di Kota Madiun.

“Dengan membuat motif batik yang khas daerah tentu itu akan memperkuat karakter daerah. Setiap motif memiliki makna tersendiri dan memiliki cerita masing-masing,” jelas dia saat ditemui di butiknya di Jl. Halmahera No. 14 Kota Madiun, Senin (2/10/2017).

Menurut Murni, batik merupakan warisan leluhur asli Indonesia yang telah diakui dunia. Melalui batik ini, masyarakat bisa menunjukkan karakter bangsa yang beragam dan indah.

Pada momentum Hati Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober, Murni mengajak kepada seluruh masyarakat untuk mencintai dan menggunakan batik. Dia menilai menggunakan batik sama halnya dengan menghargai dan mencintai leluhur bangsa yang telah mewariskan kebudayaan ini.

Murni juga ingin lebih mengenalkan batik yang menggunakan pewarna alami. Meskipun cukup sulit, tetapi dia optimistis suatu saat masyarakat akan menyukai batik yang menggunakan pewarna alami.

Batik dengan pewarna alami berbeda dengan batik yang menggunakan warna berbahan kimia. Batik pewarna alami biasanya lebih soft, sedangkan batik warna kimia lebih ngejreng dan berwarna cerah. Saat ini, sebagian besar masyarakat lebih memilih batik dengan warna-warna cerah.

“Jujur, saat ini penggemar batik dengan warna alam lebih sedikit dibandingkan batik dengan warna terang. Batik warna alam memang kurang terang, dan masyarakat kita kurang bisa menerima itu,” kata Kasi Pemerintahan di Kelurahan Nambangan Lor, Kota Madiun ini.

Selain belum bisa menerima soal warna, batik dengan pewarna alami memang memiliki harga yang jauh lebih mahal dibandingkan batik dengan warna kimia. Dia biasa membanderol harga batik dengan warna alam mulai Rp600.000 hingga Rp7 juta per potong.

“Proses pembuatannya lama dan sulit. Untuk menghasilkan warna alam juga memang butuh waktu yang cukup lama,” kata ibu tiga anak ini. Untuk bahan-bahan pembuatan warna alam, kata Murni, yaitu dari berbagai kayu dan daun-daunan. Seperti kulit maoni, kayu tingi, jolawe, kulit dan daun mangga, secang, serabut kelapa, dan lainnya.

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…