Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di acara Sarasehan Pengasuh dan Santri Pondok Pesantren (Ponpes) se-Soloraya di Selogiri, Wonogiri, Rabu (4/10/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di acara Sarasehan Pengasuh dan Santri Pondok Pesantren (Ponpes) se-Soloraya di Selogiri, Wonogiri, Rabu (4/10/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Rabu, 4 Oktober 2017 23:35 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

Hadiri Sarasehan Ponpes di Wonogiri, Ini Permintaan Gubernur Ganjar kepada Pemuda

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menghadiri sarasehan di Ponpes Mambaul Hikmah Wonogiri.

Solopos.com, WONOGIRI — Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengajak generasi muda tak hanya bisa mengeluh tetapi beraksi mengatasi masalah di sekitarnya. Sudah bukan zamannya lagi hanya mencaci pemerintah.

Hal itu dikemukakannya di acara sarasehan pengasuh dan santri pondok pesantren (ponpes) se-Soloraya di Ponpes Mambaul Hikmah, Nambangan, Selogiri, Wonogiri, Rabu (4/10/2017) siang. Gubernur mengaku sering mendapat keluhan berkaitan dengan pembangunan di daerah yang dinilai belum maksimal.

Keluhan datang dari berbagai elemen masyarakat, tak terkecuali mahasiswa. Salah satu contoh keluhan yang diterimanya ihwal rumah tidak layak huni (RTLH). Warga bersangkutan menuding program perbaikan RTLH yang selalu dikemukakan Gubernur tidak maksimal.

Gubernur asal Karanganyar itu menuturkan sebagai generasi muda harus aktif berpartisipasi menyelesaikan masalah setidaknya di lingkungan sekitarnya. Jika hanya mengeluh dan menyalahkan pemerintah, masalah tidak akan rampung.

Masalah yang timbul semestinya dimaknai sebagai tantangan. Pemuda harus meresponsnya dengan berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah. Berdasar contoh itu, pemuda harus aktif mencari bantuan agar RTLH bisa segera direhab. Dia menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam melihat RTLH.

“Saya janji sama pemuda itu akan memberi dana rehab, tapi dia saya tantang mencari bantuan tambahan dan mengatur rehab. Tantangan saya diterima, berani juga dia. Saya hanya ingin melatih kecerdasan tidak hanya akalnya, tetapi batin, emosi, dan kepeduliannya,” kata Gubernur.

Pada kesempatan itu dia menyampaikan keprihatinannya terhadap masalah yang dihadapi negeri ini dan dunia, seperti soal radikalisme, terorisme, dan narkoba. Dia tak percaya ada orang yang tega membunuh orang dengan cara sangat tak berperikemanusiaan seolah mengeksekusi binatang. Dia menyebut orang yang melakukannya pasti “gila”.

Masalah lain yang terus merongrong adalah penyalahgunaan narkoba. Sudah banyak korban yang sakit, meninggal dunia, dan dipenjara, bahkan dihukum mati. Namun, peredaran narkoba seolah tak pernah berhenti dan ada saja orang yang mengonsumsinya.

Dia meminta generasi muda ikut andil mengampanyekan bahaya narkoba di lingkungan sekitarnya, seperti sekolah. Pemuda harus tahu apa yang mesti dilakukan untuk menangkal peredaran narkoba.

“Kalau melihat ada yang menggunakan narkoba misalnya, harus tahu apa yang mesti dilakukan,” imbuh Gubernur.

Saat itu Baznas Jateng menyerahkan bantuan dana rehab senilai Rp215 juta kepada tiga ponpes di Wonogiri dan satu ponpes di Salatiga. Wakil Bupati Wonogiri, Edy Santosa, mengatakan Wonogiri potensial dijadikan transit pengedar narkoba.

Tidak menutup kemungkinan pula berkembang paham radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu perlu langkah strategis untuk menangkalnya.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…