Petugas bergotong-royong membersihkan sampah di pintu air Demangan, Kelurahan Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo, Jumat (29/9/2017). (Istimewa) Petugas bergotong-royong membersihkan sampah di pintu air Demangan, Kelurahan Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo, Jumat (29/9/2017). (Istimewa)
Rabu, 4 Oktober 2017 02:00 WIB Indah Septiyang W/JIBI/Solopos Peristiwa Share :

Akses Air dan Sanitasi Indonesia Terburuk Se-Asean

Sanitasi Indonesia ternyata terburuk se-ASEAN.

Solopos.com, SOLO — United States Agency for International Developtment (Usaid) Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan untuk Semua (Iuwash Plus) menyebut cakupan akses air dan sanitasi Indonesia terburuk di tingkat Association of South East Asia Nations (Asean).

Posisi Indonesia berada diperingkat sembilan dikalahkan dengan negara tetangga, Singapura dan Malaysia yang berada diposisi pertama dan kedua. Hal itu disampaikan Regional Manager Usaid Iuwash Plus Jefry Budiman kepada wartawan di Hotel Royal Heritage, Selasa (3/10/2017).

“Kita kalah dengan Singapura dan Malaysia yang sanitasi air perpipaannya sudah 100% dan BABS (buang air besar sembarangan) 0%,” ungkap dia.

Sedangkan sistem sanitasi perpipaan Indonesia baru mencapai 33% dan BABS 13%. Dia mengungkapkan masih banyak masyarakat Indonesia yang buang air besar secara sembarangan. Bahkan banyak di antaranya dibuang ke aliran sungai.

Buruknya sistem sanitasi ini membuat Indonesia berada di peringkat buncit di perhimpunan negara-negara Asia Tenggara. Hal ini menjadi perhatian serius dari Pemerintah Indonesia.

“Dampak ekonominya, adalah masyarakat miskin membayar 10 sampai 20 kali lebih mahal untuk mendapatkan air bersih,” katanya.

Selain itu, dia menambahkan  masyarakat miskin lebih rentan terhadap penyakit berbasis air dan sanitasi yang berimplikasi pada biaya kesehatan. Tak hanya dampak ekonomi, buruknya sistem sanitasi juga berdampak pada kesehatan.

Merujuk data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penyakit diare penyebab 31 persen kematian anak usia 1 bulan hingga satu tahun, dan 25 persen kematian anak usia satu sampai empat tahun setiap tahunnya. Peran penting kebersihan, lanjutnya, sering diabaikan sehingga menyebabkan angka  kematian akibat diare tersebut.

Padahal umumnya dapat dicegah, bahkan tanpa perbaikan pada sistem pengairan dan sanitasi, mencuci tangan secara tepat dengan menggunakan sabun dapat mengurangi risiko penyakit diare hingga 47 persen.

“Program akses air dan sanitasi ini yang tengah digalakkan Pemerintah Indonesia untuk mencapai target 100% akses air minum, 0% kawasan kumuh dan 100% kawasan sanitasi di 2019,” katanya.

Di Provinsi Jawa Tengah, dia mengatakan ada lima kota/kabupaten yang mendapat pendampingan Usaid Iuwash Plus. Kelima kota/kabupaten itu Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Kota Salatiga, Kabupaten Sukoharjo, serta Kota Solo.

Di Solo, dia menuturkan Usaid Iuwash Plus bekerjasama dengan PDAM untuk meningkatkan pelayanan yang memenuhi prinsip kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan. Selain itu juga mendorong mekanisme yang mempermudah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk mendapatkan akses air minum PDAM melalui kredit mikro dan master meter.

“Kami juga mendorong tercapainya akses sanitasi perkotaan melalui konsep safely managed sanitation, yaitu tahapan layanan sanitasi yang menjamin putusnya sumber pencemaran limbah domestik ke badan/sumber air,” katanya.

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…