Warga Dusun Dlimosari, Desa Tanjungsari, Banyudono, Boyolali, memblokade proyek tol Semarang-Solo, Selasa (3/10/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Warga Dusun Dlimosari, Desa Tanjungsari, Banyudono, Boyolali, memblokade proyek tol Semarang-Solo, Selasa (3/10/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Selasa, 3 Oktober 2017 18:15 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

TOL SEMARANG-SOLO
Tuntut Pengembalian Akses Jalan Kampung, Warga Boyolali Blokade Tol

Warga Banyudono, Boyolali, menggelar demo memblokade tol Semarang-Solo.

Solopos.com, BOYOLALI — Seratusan warga Dusun Dlimosari, Desa Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Boyolali, menutup akses tol Semarang-Solo ruas Salatiga-Boyolali, Selasa (3/10/2017).

Aksi itu dilakukan lantaran belum ada kejelasan atas tuntutan mereka tentang dibukanya akses jalan kampung yang tertutup proyek tol. Sejak pagi, warga sudah berkumpul di lokasi tol yang melintasi Dusun Dlimosari dan Dusun Jomboran di desa yang sama.

Warga mengusung bambu kemudian memblokade jalan tol tersebut untuk menghalangi aktivitas pembangunan jalan tol. Mereka juga membawa poster kertas bertuliskan ungkapan protes atas ditutupnya akses jalan kampung yang membentang dari utara ke selatan itu.

Pengembang proyek tol sempat datang menemui warga untuk berdialog. Namun, saat itu para perwakilan pengembang itu belum dapat memberikan keputusan dan berjanji menyampaikan tuntutan warga kepada penentu kebijakan di atasnya.

Pada siang hari, sejumlah warga meninggalkan lokasi, namun sebagian masih bertahan. Bahkan mereka mendirikan tenda dari terpal di jalan tol. Mereka berniat bertahan di lokasi hingga tuntutan mereka ada kejelasan.

Seorang warga setempat, Wardiyo, 41 mengatakan warga sudah lama menanti kepastian dari pengembang soal pembukaan akses kampung yang tertutup tol. “Kami sudah cukup lama menunggu jawaban pengembang. Tapi sampai saat ini belum ada jawaban, makanya kami menuntut kepastian dengan cara seperti ini,” ujarnya di lokasi.

Warga lain, Marwan, 54, mengungkapkan jalan selebar sekitar 2,5 meter yang tertutup proyek tol itu merupakan akses vital bagi perekonomian warga. “Kalau jalan ditutup, perekonomian warga akan terganggu bahkan bisa lumpuh. Kami kesulitan memasok pupuk dan mengirimkan hasil pertanian ke luar daerah,” ujarnya.

Dia mengakui ada akses menuju desa lain, namun warga harus memutar sekitar 2,5 km dari sisi timur. Bahkan jika melintas dari sisi barat hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

Warga lainnya, Jujuk, 45 mengungkapkan hal senada dengan Wardiyo dan Marwan. Menurutnya, warga meminta akses jalan tetap dihidupkan demi kelangsungan hidup warga.

“Monggo mau dibuat jembatan layang atau apa, tapi yang jelas jalan ini harus tetap ada meskipun ada pembangunan tol,” kata dia.

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…