Penyanyi Keroncong asal Solo, Sruti Respati, menyanyikan lagu ciptaan Maestro Keroncong Gesang Martohartono pada Seabad Gesang di Omah Sinten Heritage Hotel and Resto, Solo, Minggu (1/10/2017) malam. (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Penyanyi Keroncong asal Solo, Sruti Respati, menyanyikan lagu ciptaan Maestro Keroncong Gesang Martohartono pada Seabad Gesang di Omah Sinten Heritage Hotel and Resto, Solo, Minggu (1/10/2017) malam. (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Selasa, 3 Oktober 2017 14:51 WIB Ika Yuniati/JIBI/Solopos Issue Share :

Spirit Kebersamaan Seniman Mengenang Sang Maestro Gesang 

Para seniman Solo mengenang maestro keroncong, Gesang Martohartono,

Solopos.com, SOLO–Selesai dengan serangkaian acara ziarah dan pameran foto, sukarelawan #KotaSolo bekerja sama dengan Omah Sinten Heritage Hotel & Resto menggelar panggung apresiasi. Di gelar di pelataran, panggung untuk sang maestro keroncong, Gesang Martohartono, tersebut dihidupkan para seniman muda Kota Bengawan. Semangat dan keteladanan Gesang mereka jadikan sebagai inspirasi utama pentas malam yang dimulai sekitar Pukul 20.00 WIB tersebut.

Gudang Hip Hop Solo dan Solo Beatbox Community membuka acara. Mereka menyanyikan beberapa karya gesang dengan lantunan musik bertempo cepat. Penyanyi muda Woro Mustiko Siwi, melanjutkan malam apresiasi dengan tembang Jawa berirama pelan. Satu-satunya perwakilan Jawa Tengah yang pernah tergabung dalam proyek Di Atas Rata Rata bareng Erwin Gutawa tersebut menyanyikan langgam Jawa Caping Gunung diiringi Orkes Keroncong (OK) Swastika. Suara tinggi Woro memanaskan suasana. Tepuk tangan meriah menyambutnya di pengujung pentas.

Semangat mengenang Gesang kian menggebu dengan penampilan lainnya seperti pembacaan puisi oleh Komunitas Bibit Puisi, dan lantunan suara merdu Sruti Respati. Perwakilan Bibit Puisi Reni Aprilia mempersembahkan baris-baris sajak milik Joko Pinurba berjudul Kisah Senja dan Tubuh Pinjaman.

Baginya semangat berkarya yang dibawakan sang maestro berlaku bagi semua media kesenian. Oleh karena itu, meski tak membawakan karya Gesang, ia selalu terinspirasi olehnya. “Kami dari Bibit Puisi, ingin turut meramaikan acara ini. Ketokohan Mbah Gesang itu berlaku untuk semua orang,” kata dia.

Sruti di sela-sela menyanyi menyampaikan betapa Gesang tak hanya menghidupi bidang seni dan budaya. Tetapi juga menghidupinya dari segi material. Ia mengatakan selama berkarir sejak masa sekolah lagu-lagu Gesang telah membawanya menjadi penyanyi yang diperhitungkan. Juga beberapa kali memenangi kejuaraan lewat Bengawan Solo dan lainnya.

“Kalau enggak ada Mbah Gesang, saya enggak tahu akan membawakan lagu apa. Ketokohan beliau ini memang melegenda. Sudah berapa ribu orang dan seniman hidup dari karya beliau. Kita patut mengenangnya,” kata dia.

Perwakilan panitia penyelenggara, Sadrah, menyebutkan semua penampil dalam acara #SeabadGesang merupakan relawan tak berbayar. Mereka ikut memeriahkan acara dengan kesadaran penuh mengingat jasa-jasa Gesang yang sangat besar terhadap dunia kesenian Indonesia. Harapannya setelah ini spirit ketokohan, dan kesederhanaan sang maestro yang wafat di usia 92 tahun tersebut terus diteladani.

“Tak harus dalam hal menyanyi. Tetapi menjadi anak muda kreatif dalam berbagai bidang. Itu juga salah satu bentuk keteladanan pada sosok Gesang,” kata dia.

 

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…