Narwan, 45, peternak asal Karanganyar membelai sapinya saat tengah kontes ternak di Boyolali, Selasa (3/10/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Narwan, 45, peternak asal Karanganyar membelai sapinya saat tengah kontes ternak di Boyolali, Selasa (3/10/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Selasa, 3 Oktober 2017 22:35 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Pukau Penonton Kontes Ternak Jateng, Begini Cara Peternak Gemukkan Sapi

Para peternak sapi peserta kontes ternak Jateng di Boyolali berbagi tips cara menggemukkan sapi mereka.

Solopos.com, BOYOLALI — Sapi-sapi peserta kontes dalam Gelar Potensi Peternakan Jateng 2017 belum semuanya sampai di lokasi, Selasa (3/10/2017) pagi. Namun, kandang yang disediakan untuk ternak-ternak itu sudah hampir penuh berisi hewan-hewan yang akan dilombakan.

Warga dari berbagai daerah di Boyolali dan sekitarnya yang ingin menyaksikan kontes juga mulai berdatangan. Meski debu di kompleks baru perkantoran terpadu Boyolali itu cukup mengganggu, mereka tidak terlalu memedulikannya asal bisa menonton acara itu. (Baca: 2 Hari, 59 Sapi Unjuk Keunggulan di Kontes Ternak Jateng)

Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah sapi-sapi “raksasa” hasil penggemukan. Berat badan sapi persilangan ini pun mengundang decak kagum, yakni rata-rata pada kisaran 1 ton.

Lalu, bagaimana sapi-sapi tersebut bisa sedemikian besar? Ternyata, para peternak punya trik sendiri untuk membuat ternak mereka itu besar dan sehat.

Pastinya sapi-sapi yang sudah punya bakat gemuk itu diberi makan yang cukup. Jangan sampai sapi merasa kelaparan. Selain diberi rumput sebagai makanan pokok, sapi juga diberi nutrisi tambahan.

H. Kardi, peternak asal Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, Boyolali, memberikan kombinasi konsentrat, brand, dan katul sebagai makanan tambahan bagi sapi persilangan PH-metal miliknya yang kini berat badannya sudah mencapai sekitar 950 kg.

Untuk meracik nutrisi tersebut, setidaknya dibutuhkan biaya Rp12.500 sekali makan untuk satu ekor sapi. “Sebenarnya cara ini dilakukan juga peternak lain agar sapi mereka gemuk,” ujarnya saat ditemui wartawan sesaat setelah menempatkan sapinya di kandang.

Dalam sehari, dia memberikan nutrisi itu dua kali, pagi dan sore. Dengan demikian, dalam sebulan, dia harus merogoh kocek sekitar Rp750.000 untuk satu ekor sapi. Namun pengeluaran itu akan tertutup, bahkan untung pada saat sapi itu laku dijual.

“Dengan kondisi saat ini, saya menawarkan Rp45 juta untuk sapi saya,” ujar Kardi menunjuk sapi berusia 2 tahun 5 bulan miliknya itu.

Sementara itu, peternak sapi lain asal Desa Kaliboto, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar, Narwan, 45, mengaku melakukan hal yang sama dengan Kardi untuk menggemukkan sapinya. Tapi dia memilih nutrisi tambahan yang lebih ramah kantong.

Dia mengombinasikan polar, calvet, ampas singkong, dan air gula merah. “Saya tidak bisa menghitung biaya untuk pakan. Tapi yang jelas komposisi itu lebih hemat bagi saya,” kata pemilik sapi simetal seberat sekitar 1,2 ton ini.

Meskipun untuk pakan tidak terlalu “wah”, ada faktor lain yang membuat sapinya lebih gemuk, yakni dia selalu membuat sapinya merasa nyaman. Dia membeberkan agar nyaman sapi harus selalu bersih sehingga dia memandikannya sehari sekali.

Selain itu, kandang dan lingkungan juga harus bersih dari lumpur dan kotoran sehingga diyakininya sapi akan merasa lebih nyaman. “Ada yang bilang lumpur dan kotoran sapi baik untuk mendinginkan badan pada saat cuaca panas. Tapi bagi saya tidak begitu. Sapi dan kandang harus selalu bersih,” imbuh penyandang juara I kontes sapi di Karanganyar, November 2016, ini.

Memperlakukan sapi seperti manusia juga diyakininya membuat sapi selalu merasa nyaman. Artinya, sesekali sapi dibelai dan tidak membuat sapi panik. “Jangan membuat sapi kaget, itu tidak baik. Perlakukan segala sesuatunya dengan halus agar dia [sapi] nyaman,” sarannya.

Sementara itu, berbeda dengan dengan Kardi dan Narwan, Maryono, 49, peternak asal Kelurahan Kemiri, Kecamatan Boyolali Kota, memberikan nutrisi tambahan berupa telur bebek kepada sapi PO seberat sekitar 750 kg miliknya.

Dengan 15 butir telur yang diberikan sebulan sekali dia meyakini sapinya akan terjaga staminanya. Dengan begitu, sapi akan selalu sehat dan doyan makan sehingga akan cepat besar.

“Selain makanan pokok sapi, saya kasih juga telur 15 butir sebulan sekali,” ujar pemilik 12 sapi ini.

Sementara itu, 59 sapi nonperah dari 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah (Jateng) berpartisipasi pada kontes berbagai kategori itu yang berlangsung hingga Rabu (4/10/2017) yang diadakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Jateng.

Selain sapi, ada juga kontes kambing, ayam Kedu, dan ayam jago. Di acara yang sama juga diadakan festival sumber daya genetik Jateng yang menampilkan potensi ternak lokal Jateng.

 

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…