Suroto (kanan) menyalami warga di rumahnya, RT 011/RW 006, Dukuh Nglengkong, Desa Nanggulan, Cawas, Selasa (3/10/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Suroto (kanan) menyalami warga di rumahnya, RT 011/RW 006, Dukuh Nglengkong, Desa Nanggulan, Cawas, Selasa (3/10/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Selasa, 3 Oktober 2017 19:15 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

ORANG HILANG KLATEN
Akhirnya Pulang, Ini Alasan Kades Terpilih Nanggulan Menghilang Jelang Dilantik

Kades terpilih Nanggulan, Klaten, Suroto, akhirnya pulang ke rumahnya.

Solopos.com, KLATEN — Setelah sepekan menghilang, kepala desa (kades) terpilih Nanggulan, Kecamatan Cawas, Klaten, Suroto, kembali ke rumahnya di RT 011/RW 006, Dukuh Nglengkong, Desa Nanggulan, Selasa (3/10/2017).

Kedatangan pria berusia 35 tahun itu disambut haru keluarga dan seluruh warga yang menanti kepulangan dirinya. Suroto tiba di rumah didampingi Camat Cawas, Much. Nasir, sekitar pukul 11.00 WIB.

Seusai duduk sejenak, Suroto yang mengenakan batik warna sogan bermotif Sidoluhur yang dimodifikasi itu berdiri di serambi rumah menyalami satu per satu warga yang datang. Air mata haru dan muka sembap kemerahan terlihat jelas dari tamu-tamu yang hadir.

Alhamdulilah wis mulih. Aku mung isa donga muga waras slamet sakkabehane [Alhamdulillah sudah pulang. Saya hanya bisa berdoa semoga sehat dan selamat semuanya],” ujar seorang warga seraya memeluk erat Suroto. (Baca: Polisi Yakin Hilangnya Kades Nanggulan Jelang Dilantik Bukan karena Diculik)

Suroto hanya menjawab dengan senyuman. Tak sepatah kata pun diucapkannya. Kakak Suroto, Purwanto, menjelaskan selama menghilang, Suroto ternyata pergi mengunjungi temannya di Batam.

Ia sempat singgah beberapa kali seperti di Kulonprogo, DIY, untuk bertemu temannya yang lain. Dari Kulonprogo, ia pergi Kebumen lalu ke Bandar Lampung naik bus. Dari Bandar Lampung, Suroto pergi ke Batam naik pesawat.

“Lik Suroto pergi ke Batam itu menemui temannya. Di merasa nervous [gamang] karena biasanya jadi petani dan buruh thresher [mesin pemanen padi] sekarang harus jadi public figure,” ujar Purwanto saat ditemui wartawan di rumah Suroto, Selasa.

Di Batam, temannya menghubungi keluarga Suroto di Klaten. Temannya menawarkan apakah Suroto diantar pulang atau dijemput. Keluarga memutuskan menjemput Suroto dengan mengirim utusan ke Batam.

Suroto tiba di Bandara Adisucipto, Jogja, Senin (2/10/2017) malam. Sebelum pulang ke rumah, Suroto sempat singgah di Rumah Dinas Wakil Bupati Klaten dan bertemu Sunarna, suami Plt. Bupati Klaten Sri Mulyadi, didampingi Camat Cawas, Paguyuban Kepala Desa Cawas, dan lainnya.

Disinggung soal kabar ada pihak yang menemui Suroto meminta uang terkait pencalonannya, Purwanto membantah. Pencalonan Suroto murni atas dukungan warga secara sukarela. Tidak ada money politics dalam pencalonannya.

“Pencalonan Suroto itu habisnya sekitar Rp130 juta. Semuanya sudah lunas. Masih ada satu utang senilai Rp10 juta yang sengaja ditunda pembayarannya karena disiapkan untuk menggelar syukuran. Jadi Suroto pergi bisa dibilang tanpa utang,” ujar Purwanto.

Camat Cawas, Much. Nasir, menerangkan Suroto bakal dilantik dan dilanjutkan serah terima jabatan, Rabu (4/10/2017) pukul 9.00 WIB di Kantor Kecamatan Cawas. Hal itu sesuai batas akhir pelantikan Suroto pada 4 Oktober.

“Dilantik di kecamatan atas perintah Plt. Bupati Klaten karena beliau ada tugas ke Jakarta. Kami berharap Suroto bisa segera bekerja menjalankan program dan melayani masyarakat,” tutur Nasir.

Salah seorang warga, Samini, 40, Nglengkong, Nanggulan, mengaku senang Suroto pulang. Menurut dia, Suroto merupakan sosok yang menyayangi anak kecil dan mengayomi orang tua. Ia juga dikenal sebagai sosok yang jujur, loyal, dan giat bekerja.

“Alhamdulilah Pak Suroto pulang. Semoga segera bisa menjalankan tugasnya membangun desa dan melayani masyarakat dengan baik,” harap dia.

Hal senada juga disampaikan mantan Kepala Desa Nanggulan, Suwito. Menurutnya, hubungannya dengan Suroto baik-baik saja terlebih keduanya masih saudara. Kendati kalah dalam pemilihan, Suwito tak menyimpan kecewa, benci, ataupun dendam kepada Suroto.

Ia pun menyanggah ada praktik money politics dalam pemilihan Juni lalu. “Saya menilai ada oknum yang sengaja memperkeruh suasana. Hubungan kami baik-baik saja. Semoga Suroto bisa mengemban amanah dengan baik. Saya punya gagasan, ketika suasana sudah kondusif, ingin silaturahmi ke sana [rumah Suroto],” harap Suwito.

lowongan pekerjaan
SOCIAL KITCHEN SOLO, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Dinsos Boyolali Diminta Evakuasi Nenek-Nenek Sebatang Kara di Gubuk Reyot

Seorang nenek-nenek hidup sebatang kara di gubuk reyot tepi sungai wilayah Simo. Solopos.com, BOYOLALI — Nenek-nenek asal RT 005/RW 001, Desa Pelem, Simo, Boyolali, Ngateni, 70, sudah bertahun-tahun hidup sebatang kara di gubuknya di tepi sungai Kampung Godean, Simo. Meski…