Ilustrasi KBBI (Ayu Prawitasari/JIBI/Solopos) Ilustrasi KBBI (Ayu Prawitasari/JIBI/Solopos)
Selasa, 3 Oktober 2017 02:00 WIB JIBI/Solopos/Newswire Pendidikan Share :

Oktober, Kemendikbud Peringati Bulan Bahasa dan Sastra

Kemendibud peringati Bulan Bahasa dan Sastra.

Solopos.com, JAKARTA — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memperingati Bulan Bahasa dan Sastra di Jakarta serta berbagai provinsi pada Oktober ini.

Bulan Bahasa dan Sastra diselenggarakan pada Oktober karena berkaitan dengan Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 28 Oktober 1928.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikbud Dadang Sunendar mengatakan pada tahun ini mengangkat tema Majukan Bahasa dan Sastra, Rekatkan Kebinekaan. Bulan Bahasa dan Sastra secara rutin diselenggarakan Kemendikbud pada Oktober 1980 sebagai salah satu bentuk memperingati hari lahirnya Sumpah Pemuda yang menyepakati Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

“Kegiatan yang dilaksanakan selama Bulan Bahasa dan Sastra cukup banyak. Nanti akan dilaksanakan di pusat [Jakarta] maupun di berbagai provinsi di tanah air. Puncak acaranya dilaksanakan pada 28 Oktober,” ujar Dadang di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu (27/9/2017).

Saat puncak acara Bulan Bahasa dan Sastra tahun lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meresmikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) baru yaitu edisi kelima dengan 108.000 lema atau kosakata. Ada pula peluncuran tiga jenis KBBI yaitu KBBI Cetak (seperti Kamus/Buku), KBBI Daring (dalam jaringan atau online), dan KBBI Luring (luar jaringan atau offline atau berbasis komputer).

Dadang menuturkan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional merupakan pemersatu bangsa. Bahasa Indonesia juga dapat menghilangkan batas-batas etnis Indonesia dalam berkomunikasi.

Bahasa Indonesia juga mampu mewadahi keberagaman macam pengetahuan baik yang berakar dari kearifan nusantara maupun konsep peradaban barat. Beberapa upaya yang dilakukan untuk memajukan bahasa Indonesia antara lain melaksanakan peraturan perundangan yang menjaga dan memastikan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sejarah, mengembangkan lema atau kosakata, melakukan pembinaan dan penyuluhan bahasa, serta menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.

“Bahasa asing di ruang publik dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja. Namun, lama-kelamaan rasa nasionalisme kita bisa terputus. Padahal kita mengetahui bahasa kita merupakan salah satu elemen dari Sabang sampai Merauke yaitu jembatannya adalah bahasa Indonesia,” tutur Dadang seperti dilansir website Kemendikbud, Jumat (29/9/2017).

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…