Suasana labuhan atau larung laut, yang dilaksanakan oleh Kadipaten Pura Pakualaman, bertepatan dengan penanggalan 10 Sura, Minggu (1/10/2017). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Suasana labuhan atau larung laut, yang dilaksanakan oleh Kadipaten Pura Pakualaman, bertepatan dengan penanggalan 10 Sura, Minggu (1/10/2017). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 3 Oktober 2017 16:20 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Memaknai Tradisi Labuhan Pantai Glagah oleh Pura Pakualaman

Pelaksanaan labuhan atau larung laut, 10 Sura, digelar di Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Minggu (1/10/2017).

Solopos.com, KULONPROGO-Zaman memang semakin modern. Namun keyakinan dan kepercayaan warga Jogja terhadap filosofi dan adat tradisi Jawa, seakan tak pernah lekang.

Hal itu masih nampak, di tengah pelaksanaan labuhan atau larung laut, 10 Sura, di Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Minggu (1/10/2017).

Pasukan lombok abang dan prajurit plangkir berjalan, mereka mengawal kirab gunungan pakaian raja dan permaisuri Kadipaten Pura Pakualaman. Bukan hanya gunungan pakaian, mereka juga mengawal gunungan sayur-mayur dan jajanan tradisional.

Larung gunungan ini, merupakan bentuk cara melestarikan warisan leluhur, yang dikenal dengan istilah Labuhan Sukerto Sri Paduka Pakualam X. Kegiatan ini diselenggarakan setelah 10 melewati peringatan 1 Muharam atau dimulainya tahun baru, dalam hitungan kalender Jawa.

Selanjutnya, gunungan diletakkan di pendopo Pesanggrahan Pakualaman. Doa bersama di Pesanggrahan Pakualaman itu, dilakukan untuk memohon keselamatan menjadi awal prosesi labuhan. Prosesi dilanjutkan dengan berjalan kaki, menuju Joglo Labuhan. Setelah didoakan, gunungan dibawa menuju ke arah pantai.

Di sana, warga sudah menyemut sejak pagi harinya. Perlahan, tim Search and Rescue membantu para pihak Pura Pakualaman untuk melarung gunungan. Namun jangan menyangka gunungan itu lancar dilarung begitu saja.

Warga di sana memperebutkan gunungan, dan tidak sampai 10 menit, isi gunungan ludes, dan hanya menyisakan rangka yang terbuat dari bambu.

Bulir-bulir padi yang menjadi isi gunungan, juga dipunguti oleh warga, kendati sudah jatuh di antara butiran pasir pantai. Sedangkan yang sama sekali belum mendapatkan isi gunungan, nampak sukarela menunggu di tepian pantai.

Sembari menantikan apungan pakaian Sri Paduka Pakualam X dan permaisuri yang akan ditenggelamkan. Mereka percaya, mendapatkan isi gunungan, bisa membuat mereka mendapatkan rezeki.

Panitra Kadipaten Pura Pakualaman, Mas Riyo Sestro Dirjo menjelaskan, dilarungnya pakaian dan barang-barang pribadi kesukaan dari Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada tiap tahun di bulan Sura, bukan tanpa alasan.

Tradisi ratusan tahun ini terus dilestarikan karena memiliki makna yang mendalam. Larung pakaian raja dan permaisuri bermaksud untuk menolak bala atau keburukan, agar keluarga keraton, pakualaman, dan warga DIY terhindar dari malapetaka. Bisa hidup tenteram, damai dalam bermasyarakat.

Selain pakaian, benda lain yang dilabuh adalah potongan kuku, rambut, selimut, sprei, bantal dan benda-benda lain yang kerap digunakan dalam keseharian raja dan ratu.

Agar bisa tenggelam saat dilarung, pakaian dan benda-benda itu sebelumnya sudah diikat dengan batu, sebagai pemberat.

Sementara itu, dilarungnya gunungan sayur-mayur dan makanan tradisional, merupakan ungkapan rasa syukur, kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang telah memberikan kelimpahan rezeki dan banyak anugerah kepada DIY.

“Tiga gunungan tersebut berisi hasil bumi, padi serta ageman [pakaian] Paku Alam X yang sudah tidak dipakai,” ungkapnya.

Salah satu warga yang ikut berebut gunungan, Sri Maryanti mengatakan, setiap tahun ia selalu menyaksikan dan ikut berebut sesaji, gunungan bersama warga lain, dari berbagai daerah.

Namun ternyata, ia bukan hanya mengincar sayuran dan buah yang akhirnya berhasil ia dapatkan. Melainkan juga salah satu tongkat bambu, berbalut kain putih, yang digunakan untuk memikul gunungan. Ia berencana meletakkan tongkat bambu itu, di dalam rumah sebagai tiang penyangga.

“Tongkat ini justru yang saya incar, karena katanya membawa berkah,” tuturnya.

lowongan pekerjaan
SOLO GRAND MALL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…