Pemilik butik Batik Murni Madiun, Sri Murniyati, menunjukkan batik tulis dengan motif khas pecel Madiun, Senin (2/10/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Pemilik butik Batik Murni Madiun, Sri Murniyati, menunjukkan batik tulis dengan motif khas pecel Madiun, Senin (2/10/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Selasa, 3 Oktober 2017 13:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KISAH INSPIRATIF
PNS Kota Madiun Ini Sukses Berwirausaha Batik Berkat Motif Pecel

Seorang PNS Kota Madiun sukses berkreasi batik dengan motif pecel madiun.

Solopos.com, MADIUN — Meski telah hidup mapan sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Madiun, Sri Murniyati, 50, tetap ingin berinovasi. Saat ini, Murni sukses dalam berwirausaha batik berkat motif khas pecel Madiun.

Saat ditemui di galeri batiknya di Jl. Halmahera No. 21, Kelurahan Kartoharjo, Kota Madiun, Murni menceritakan awalnya mencoba belajar membatik saat ada pelatihan membatik di rumah dinas wali kota yang diselenggarakan Disperindag Kota Madiun tahun 2010 silam. Saat itu, dirinya merupakan PNS Satpol PP Kota Madiun.

Setelah mengikuti pelatihan, Murni semakin tertarik dengan membatik. Ketertarikan itu membuat Murni ingin terus belajar membatik. Dia pun belajar membatik ke Yogyakarta dan Solo.

“Di Solo dan Yogyakarta kan banyak pembatik yang hebat. Saya belajar ke sana untuk lebih memperdalam ilmu membatik,” kata ibu tiga anak ini, Senin (2/10/2017).

Setelah dirasa cukup, Murni kemudian mencoba memproduksi batik sendiri. Dengan berbagai pertimbangan, Kasi Pemerintahan Kelurahan Nambangan Lor, Kota Madiun, ini kemudian mengkreasikan batik dengan motif pecel yang menjadi makanan khas Madiun.

“Saya mengangkat motif pecel. Jadi di dalamnya ada kacang panjang, daun singkong, kacang tanah, bunga turi, cabai, dan lainnya,” ujar dia.

Siapa sangka, kreasi Murni mendapat apresiasi dari publik. Banyak wisatawan dan kolektor batik mencari dan membeli batik khas Madiun itu sebagai oleh-oleh.

Usaha terus berkembang hingga Murni memiliki karyawan sekitar 12 orang yang merupakan warga sekitar. Jumlah karyawan bertambah saat ada pesanan dalam jumlah besar.

Tidak melulu bermotif pecel, dia juga mengolaborasikan motif batik klasik dengan pecel. Semisal motif kawung dengan motif pecel, motif parang dengan motif pecel, dan lainnya.

Dijual di Bangladesh

Hasil kerja keras Murni selama sekitar enam tahun ini telah berbuah manis. Kini, galeri batiknya menjadi salah satu tempat yang dikunjungi wisatawan dan pejabat untuk mendapatkan oleh-oleh khas Madiun. “Galeri ini kerap dikunjungi pejabat yang kebetulan datang di Kota Madiun. Kolektor batik juga banyak yang mencari batik di sini,” jelas dia.

Pemesan batiknya juga berasal dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Ponorogo, hingga Kediri. Bahkan, batik khas Madiun ini juga sudah dijual di Bangladesh.

Harga batik pecel, kata dia, mulai dari Rp600.000 hingga Rp7 juta per potong. Besaran harga tergantung motif, bahan kain, dan pewarna yang digunakan.

Dia menyebut omzet penjualan rata-rata per bulan yaitu mencapai Rp70 juta. Dengan laba bersih sekitar Rp20 juta per bulan. Selain membuka penjualan batik, Murni mengaku galeri batiknya kerap dikunjungi pelajar yang hendak belajar membatik.

Seorang penggemar batik asal Madiun, Sri Winarsih, mengatakan batik bermotif pecel sangat bagus karena menampilkan makanan khas Madiun dalam seni batik. Menurut dia, motif pecel itu membuat karakter khas Madiun semakin terasa.

Dia mengaku suka dengan batik khas Madiun dengan warna alami. Menurut dia, batik tersebut warnanya lebih kalem dan tidak terlalu ngejreng. “Bahan dasar pecel yang biasa kita makan. Ini dituangkan dalam seni batik. Nuansa Madiunnya sangat kuat,” ujar dia.

Hal senada juga dikatakan Leni Liana, penggemar batik asal Ponorogo. Leni menuturkan batik pecel ini sangat unik karena menampilkan motif yang berbeda dari batik Solo maupun Yogyakarta.

“Ini lebih memperkuat Madiun sebagai kota pecel. Karena memang motifnya bahan-bahan untuk membuat pecel,” ujar dia.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…