Mbah Wagiyem, 65, (kiri) dan Mbah Paiman, 74, berbincang di amben kayu rumah mereka di Dukuh Ngundaan RT 003, Desa Glonggong, Gondang, Senin (2/10/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Mbah Wagiyem, 65, (kiri) dan Mbah Paiman, 74, berbincang di amben kayu rumah mereka di Dukuh Ngundaan RT 003, Desa Glonggong, Gondang, Senin (2/10/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 3 Oktober 2017 17:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Kemiskinan Memaksa Kakek-Kakek Sragen Ini Tidur Satu Bilik dengan 4 Ekor Ayam

Kakek-kakek di Sragen harus tidur satu bilik dengan empat ayamnya.

Solopos.com, SRAGEN — Gubuk sangat sederhana berdiri di antara dua sumur penduduk di Dukuh Ngundaan RT 003, Desa Glonggong, Kecamatan Gondang, Sragen. Gubuk berdinding gedek itu terbagi menjadi tiga ruang sempit, yakni dua kamar tidur dan satu dapur atau pawon.

Untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus, penghuninya harus menumpang kepada tetangga atau anggota keluarga lainnya. Rumah itu dihuni Mbah Paiman, 74, dan Mbah Wagiyem, 65.

Mereka kakak beradik. Paiman yang dikenal dengan sapaan Mbah Man tidur di ruang sisi barat. Lantai kamar Mbah Man yang berupa tanah itu tidak rata.

Di samping amben tempat tidurnya terdapat bekas kursi dan tenggok yang biasa digunakan keempat ekor ayamnya untuk tidur. Ya, ayam-ayam itu tidur satu ruangan dengan Mbah Man.

Sementara Mbah Wagiyem tidur di bilik sebelah timur sejajar dengan dapur. Di dapur itu hanya terdapat tungku kayu bakar untuk kebutuhan memasak dan di sampingnya terdapat tumpukan kayu bakar.

Struktur atap yang sudah usang dan lapuk dihiasi lamat/sawang. Di tempat itulah Mbah Man hidup sejak lahir.

“Mbah Man ini sudah tidak punya anak dan istri. Kendati sudah tua tetapi makannya masih kuat. Saya yang setiap hari ngopeni [menghidupi] Mbah Man. Kalau mandi ya saya guyur dengan air di sumur. Kalau buang air besar ya di ikrak gitu lalu nanti dibuang ke sungai,” ujar Sulis, 30, cucu Mbah Wagiyem yang tinggal bersebelahan dengan rumah Mbah Man saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (2/10/2017).

Sulis mengisahkan Mbah Man belum pikun, hanya perilakunya semaunya sendiri. Dulu tanah di ruangnya sudah diratakan tetapi oleh Mbah Man dibuat gundukan. Bahkan galar atau anyaman bambu untuk alas tempat tidur dirusak hingga akhirnya ada tetangga menggantinya dengan papan kayu.

Rumah Mbah Man ini sudah diajukan untuk mendapatkan bantuan bedah rumah tidak layak huni (RTLH) namun hingga kini belum terealisasi. “Kalau ditanya orang yang tidak begitu kenal ya sengol [ketus] begitu. Tetapi kalau diajak komunikasi keluarganya ya bisa baik. Mbah Giyem yang biasa diajak komunikasi. Ayam-ayamnya itu mau saya pindah tetapi sama Mbah Man tidak boleh. Ya, tidurnya ya di sebelah selatan amben Mbah Man itu,” ujar Sulis.

Sulis mencoba menanyai Mbah Man. “Mbah, siram nggih [mandi ya]?” Tawaran Sulis ditolak Mbah Man. “Wayah mene kok adus. Adem. [kondisi begini kok mandi. Dingin],” katanya.

Selama ini, Wagiyem dan Mbah Man mendapat jatah beras sejahtera (rastra) sebagai pengganti beras untuk rakyat miskin (raskin). Wagiyem yang menemani Mbah Man. Kalau sedang batuk, Wagiyem melarang Mbah Man merokok.

“Kalau merokok pasti batuk. Makanya saya tidak izinkan Mbah Man merokok. Kalau buang hajat, ya saya yang membuangnya ke sungai di dekat rumah. Mbah Man ini sebenarnya bisa jalan. Tetapi khawatir kalau ke mana-mana. Saya sendiri kalau siang ya derep [mencari sisa gabah saat musim panen di sawah]. Kalau dapat satu tenggok pulang. Kadang ya mencari kayu bakar untuk memasak,” tuturnya.

Kepala Desa Glonggong, Gondang, Sragen, Jumadi, berencana menengok kondisi gubuk Mbah Man. Dia akan memprioritaskan bantuan bedah RTLH senilai Rp6 juta untuk rumah yang dihuni dua orang lanjut usia itu. “Ya, nanti saya lihat kondisinya dulu,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Sragen Bambang Widjo Purwanto mengunjungi rumah Mbah Man, Selasa (3/10/2017). Selain memastikan kondisi kakek-kakek dan nenek-nenek itu, Bambang Pur juga membawakan bantuan untuk kebutuhan hidup mereka.

“Saya dengar orang tua itu dipasung makanya saya ingin memastikan ke sana dan sedikit membawa bantuan,” tuturnya.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…