polinator ilustrasi polinator (IST/BBC)
Selasa, 3 Oktober 2017 22:55 WIB Kusnul Isti Qomah/JBI/Harian Jogja Internasional Share :

KEANEKARAGAMAN HAYATI
Hewan Penyerbuk Terancam Cahaya Buatan

Cahaya buatan ini mengurangi kunjungan hewan penyerbuk malam ke bunga-bunga sebesar 62%

Solopos.com, SWISS-Sebuah penelitian yang baru-baru diunggah di jurnal Nature menyingkap hasil yang meminta perhatian. Hewan penyerbuk terancam adanya cahaya buatan.

Dilansir dari BBC, para peneliti menemukan sebuah ancaman global terbaru bagi hewan-hewan penyerbuk atau polinator. Ancaman itu adalah cahaya buatan di malam hari. Cahaya buatan ini mengurangi kunjungan hewan penyerbuk malam ke bunga-bunga sebesar 62%. Penurunan drastis ini pun berdampak pada produksi buah.

Jumlah polinator menurun di seluruh dunia. Hal ini tentu saja bukan kabar baik untuk tanaman liar dan tanaman produksi. Serangga malam sangat mudah teralihkan dari tugas penyerbukan mereka oleh cahaya terang.

Buah bermula dari bunga, tetapi tidak setiap bunga menjadi buah. Sejumlah faktor mendukung transformasi bunga menjadi buah dan salah satu faktor terpenting adalah penyerbukan oleh serangga. Namun, serangga jumlahnya cepat menurun karena gangguan antropogenik termasuk kehilangan dan kerusakan habitat, penggunaan pestisida, invasi spesies lain, dan perubahan iklim. Berdasarkan hasil penelitian, cahaya buatan merupakan ancaman lainnya.

Pemimpin penelitian, Dr Eva Knop dari Universitas Bern, Swiss mengatakan, studi menunjukkan tanaman-tanaman biasanya memiliki hewan penyerbuk siang dan malam. “Saat malam hari, seringnya aroma tanaman yang menarik perhatian penyerbuk malam hari, tetapi ada pula hal lainnya seperti visual karena polinator malam kebanyakan memiliki mata yang sensitif,” ungkap dia.

Ia mengungkapkan, manusia sudah terbiasa dengan lebah dan kupu-kupu yang menyerbukkan bunga pada siang hari. Tetapi, saat malam hari giliran polinator malam yang menjalankan tugasnya. “Dalam penelitian kami, polinator terbanyak saat malam adalah ngengat [Lepidoptera], kumbang [Coleoptera], dan kepik sejati [Hemiptera],” jelas dia.

Namun, karena kontaminasi cahaya buatan misalnya dari lampu jalan, malam hari tidak lagi terlalu gelap. Cahaya buatan di malam hari menyebar secara global dengan rasio 6% per tahun.

Dalam penelitian pertama tentang hubungan langsung cahaya buatan di malam hari dengan perubahan perilaku serangga, peneliti melakukannya di padang rumput di Swiss. Tujuh padang rumput dibanjiri cahaya buatan di malam hari menyerupai lampu jalan dan tujuh padang rumput lainnya dibiarkan gelap alami.

Para peneliti secara berhati-hati mengamati interaksi serangga dengan tanaman di kedua jenis padang rumput baik yang diberi cahaya maupun yang gelap. Mereka menemukan, kunjungan polinator ke tanaman di area berpenerangan berkurang drastis.

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…