Malioboro Coffee Night Wakil Walikota Jogja Heroe Purwadi saat berada dalam acara Malioboro Coffe Night, Senin (2/10/2017) malam. (Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati)
Selasa, 3 Oktober 2017 07:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati Kota Jogja Share :

HUT JOGJA
Malioboro Coffee Night Juga Diikuti Petani Kopi

Dalam sebulan, ia bisa menjual sampai 50 kg kopi bubuk

Solopos.com, JOGJA-Keseruan Malioboro Coffee Night dalam rangkaian HUT Jogja ke-261 tidak hanya diikuti barista saja. Acara ini juga diramaikan petani kopi.

Husnul, petani kopi asal Bondowoso memamerkan kopi terbaiknya yang telah tersertifikasi indikasi geografis. “Ini jadi salah satu kopi terbaik Indonesia,” kata dia, Senin (2/10/2017) malam.

Ia mengatakan, kopi Bondowoso memiliki rasa asam Jawa yang kental, spicy dan rempah yang menonjol, serta after taste yang lekat. Ia menjual kopi-kopi Bondowoso dengan harga mulai Rp35.000 per ons.

Ia mengakui, seiring kebiasaan minum kopi yang menjadi tren, membuat permintaan kopi meningkat. Dalam sebulan, ia bisa menjual sampai 50 kilogram (kg) kopi bubuk. Pemasaran selama ini di kawasan Jawa dan Bali.

Renata, 20, salah satu pengunjung Malioboro Coffee Night ikut serta mengantre untuk mendapatkan kopi gratis. Untuk mendapatkan satu gelas kopi, ia harus mengantre sampai 30 menit. Menurutnya, dengan acara Malioboro Coffee Festival tersebut, tren minum kopi akan semakin meningkat.

“Kalau untuk ingin face to face lebih dekat dengan baristanya enggak mungkin karena acara ini [Malioboro Coffee Night] ini lebih memberikan kesempatan menikmati kopi untuk masyarakat umum,” ujar dia.

Anggi Dita selaku Humas dan Publikasi Malioboro Coffee Night mengatakan, event ini menjadi event ngopi sepanjang malam yang baru pertama kalinya digelar di Indonesia. Malioboro Coffee Night juga untuk memperingati Hari Kopi Internasional. Acara ini dimeriahkan berbagai aksi seniman jalanan, musik, karikatur dan obrolan wengi dengan para pegiat kopi.

lowongan pekerjaan
STAFF ADMINISTRASI & KEUANGAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…