Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memilih kain batik dan lurik dengan didampingi Pemimpin Redaksi Solopos Suwarmin di gerai tokosolopos.com, Jl. Adisucipto 190, Solo, Rabu (1/3/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos) Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memilih kain batik dan lurik dengan didampingi Pemimpin Redaksi Solopos Suwarmin di gerai tokosolopos.com, Jl. Adisucipto 190, Solo, Rabu (1/3/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)
Selasa, 3 Oktober 2017 04:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

HARI BATIK
Ganjar Pranowo Akui Gemar Koleksi Batik

Hari Batik yang diperingati setiap 2 Oktober dilalui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dengan mengakui bahwa dirinya gemar mengoleksi kain dan busana batik.

Solopos.com, BANYUMAS – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku gemar mengoleksi batik dengan berbagai corak yang khas dari sejumlah daerah. “Banyak sekali, saya kolektor batik,” kata Ganjar di sela-sela kunjungan kerja di Kabupaten Banyumas tepat pada Hari Batik Nasional, Senin (2/10/2017).

Politikus PDI Perjuangan itu mengaku sering menyempatkan diri membeli batik saat berkunjung ke sejumlah daerah, baik di dalam maupun di luar Provinsi Jawa Tengah. Dalam beberapa kesempatan, Ganjar mengaku senang mengenakan batik klasik, tetapi kadang juga memakai batik dengan desain yang tidak biasa.

“Saya suka menikmati karya-karya anak muda yang desainnya lucu, menarik, dan aneh, apalagi sekarang di tiap daerah muncul motif-motif baru, seperti desain bambu, daun jati, kayu jati,” ujarnya.

Ganjar menyebutkan jajaran Pemprov Jateng terus mendorong para perajin batik untuk meningkatkan kualitas, mengembangkan desain dan pemasaran produk batiknya. “Cara menjual batik bisa secara online, batik saya ini saya beli secara online dari anak-anak muda di Kabupaten Blora, harganya Rp200.000,” kata Ganjar sambil menunjukkan kemeja batik yang dipakainya.

Terkait dengan peringatan Hari Batik Nasional, pria kelahiran 28 Oktober 1968 ini mengajak berbagai lapisan masyarakat untuk ikut melestarikan batik yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia sejak Oktober 2009. Ganjar bahkan menyebut batik sebagai baju yang paling luwes dan bisa dipadupadankan berbagai bahan pakaian yang lain.

Di hari yang sama, pada Hari Batik Nasional di Purwokerto, Gubernur Ganjar Pranowo sempat pula mengajak perajin batik di Kabupaten Banyumas menjadikan peringatan Hari Batik Nasional sebagai momentum untuk memperkenalkan dan memromosikan produk-produknya agar lebih dikenal.

“Produk-produk kita yang dimiliki oleh Banyumas agar bisa berbicara dalam pentas dunia. Dan saya berterima kasih kepada Dekranasda, gerakan gegap gempita Dekranasda, luar biasa,” katanya saat memberi sambutan dalam upacara peringatan Hari Batik Nasional Ke-8 Tahun 2017 Tingkat Kabupaten Banyumas di Alun-Alun Purwokerto, Banyumas, Senin.

Dalam hal ini, kata dia, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah menjadi nomor satu selama dua tahun berturut-turut. Menurut dia, hal itu tidak lepas dari peran istri bupati/wali kota dalam mengembangkan dekranasda sehingga karya-karya lokal saat sekarang mulai menasional dan mendunia.

Lebih lanjut, Ganjar mengharapkan para perajin batik memanfaatkan teknologi informasi untuk memromosikan produk-produk batiknya. “Di situlah dunia maya ini akan menangkap seluruh pesan yang ada. Ceritakan batik Banyumas punya cerita, batik Banyumas punya kekhasan,” katanya.

Dalam upacara peringatan Hari Batik Nasional Ke-8 Tahun 2017 Tingkat Kabupaten Banyumas itu juga ditampilkan tarian Pesona Batik Nusantara yang dimainkan puluhan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sokaraja. Upacara tersebut diakhiri dengan Kirab Batik Banyumasan yang diikuti organisasi perangkat daerah, pelajar, dan sejumlah instansi lainnya.

Saat ditemui wartawan seusai upacara, Ganjar mengatakan batik di Jateng memiliki banyak corak, kuantitas, dan kualitas dari yang sangat sederhana sampai paling rumit serta dari paling murah sampai yang harganya sangat mahal. “Saya kira, kalau bicara batik, ya sumbernya Jawa Tengah ini,” katanya.

Ia mengatakan saat sekarang ada tren yang luar biasa karena setiap kabupaten/kota punya ciri khas batik sendiri. Bahkan, kata dia, dari kabupaten dan kota itu turun lagi hingga desa karena ada desa-desa yang punya sejarah panjang sehingga membuat desain batik sesuai dengan sejarah masing-masing atau potensi yang ada di sana.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
CV.Indra Daya Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…