Warga membentangkan 33 m kain batik bermotif parang asem arang saat memperingati Hari Batik Nasional di Kampung Batik Semarang, Jateng, Senin (2/10/2017). (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo) Warga membentangkan 33 m kain batik bermotif parang asem arang saat memperingati Hari Batik Nasional di Kampung Batik Semarang, Jateng, Senin (2/10/2017). (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo)
Selasa, 3 Oktober 2017 01:50 WIB JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo Feature Share :

FOTO HARI BATIK
33 M Parang Asem Arang Direntang

Hari Batik dimeriahkan 33 m batik parang asem arang.

Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktiber sebagai penanda telah ditetapkannya tradisi membatik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO diperingati dengan berbagai cara oleh warga Indonesia. Di Kampung Batik Semarang, Jawa Tengah, Senin (2/10/2017), warga membentangkan kain batik bermotif parang asem arang—khas Semarang—sebagai penanda peringatan Hari Batik Nasional tersebut. Pembuatan kain batik sepanjang 33 m tanpa sambungan tersebut dikerjakan oleh 10 orang pembatik selama enam bulan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…