Na'imatur Rofiqoh (istimewa) Na'imatur Rofiqoh (istimewa)
Selasa, 3 Oktober 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Keluarga Indonesia dalam Ayah, Papa, dan Bapak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (30/9/2017). Esai ini karya Naimatur Rofiqoh, tukang gambar dan “pemukul” huruf. Alamat e-mail penulis adalah naimaturr@gmail.com.

Solopos.com, SOLO–”Ayah kok matun [menyiangi rumput pengganggu di sawah yang ditanami padi],” kata seorang ibu. Ibu-ibu lain yang duduk mengitari umbrukan buncis tertawa terkekeh-kekeh.

”Hla, ya, sing matun ki bapak. Ayah kerjane ya neng kantor,” sahut seorang ibu yang duduk di samping saya. Bibirnya bergincu tipis, bergamis bunga-bunga, telapak kakinya yang pecah-pecah bersandal warna kuning.

Gelak tawa kembali terdengar di antara kesibukan tangan-tangan mengirisi buncis yang demikian banyak. Celotehan para ibu itu terjadi di dapur bude saya, di sebuah desa nun di ujung timur Jawa Timur beberapa waktu lalu. Saya dan para ibu itu tengah rewang sebab bude saya berhajat mengawinkan anak lelaki ragil.

Celotehan bernada gojekan belum berakhir setelah beberapa lama. Ibu-ibu itu tidak habis pikir pada panggilan bocah-bocah mutakhir kepada orang tua mereka. Di desa yang belum tercakup Peta Google itu ada bocah yang nekat memanggil orang tuanya dengan ”papa” dan ”mama”.

Betapa telinga bakal terasa geli ketika seorang tetangga bertanya kepada seorang bocah lelaki,”Bapakmu neng ngendi, Le?” dan kemudian mendapatkan jawaban dari si bocah,”Papa lagi ndhangir [menggemburkan tanah dengan pacul], Bude.”

”Papa” dan ”ndhangir adalah pasangan kata yang sulit direstui hingga paragraf berakhir. Batin atau rasa bahasa masyarakat mutakhir telanjur terlatih oleh tautan bahasa dengan feodalisme, rasisme, dan kolonialisme sejak masa lalu.

”Ayah”, ”papa”, dan ”bapak” meski ketiganya telah sah berumah di kamus bahasa Indonesia ternyata  tidak dapat duduk berlesehan bersama sambil ngopi di warung bahasa. Bocah-bocah yang mengenal ”ayah”, ”papa”, dan ”bapak” lewat televisi menemukan ”ayah”, ”papa”, dan ”bapak” yang sama di buku dan majalah terbitan tempo lalu. Ketiganya bertengkar memperebutkan ruang dan laku.

”Ayah” dan ”papa” atau sering juga dipanggil ”papi” tidak tinggal di desa dan tidak ndhangir sejak Subuh sampai terik matahari. Siswandi di buku Lambaian Seribu Bunga (2007) mengisahkan keberadaan seorang ayah di luar kota meski berasal dari desa.

”Ibu percaya, meskipun ayahmu hanya seorang buruh dan kakakmu hanya menjadi tukang las, mereka tidak pernah menipu.” Persentuhan keluarga dengan modernitas kota dan meninggalkan pekerjaan agraris telah mengizinkan panggilan ”ayah”.

Selanjutnya adalah: ”Ayah” dan ”papa” bekerja terkungkung tembok empat sisi…

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…