Yazid Widodo memeriksa tanaman buah naga di pekarangan rumahnya di Dusun Glesung, Glesungrejo, Baturetno, Wonogiri, baru-baru ini. (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Yazid Widodo memeriksa tanaman buah naga di pekarangan rumahnya di Dusun Glesung, Glesungrejo, Baturetno, Wonogiri, baru-baru ini. (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Senin, 2 Oktober 2017 12:15 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

WISATA WONOGIRI
Desa Glesungrejo di Baturetno Bersolek Jadi Agrowisata Organik

Wisata Wonogiri, Desa Glesungrejo dijadikan agrowisata organik.

Solopos.com, WONOGIRI — Pelaku program optimalisasi pekarangan rumah di Desa Glesungrejo, Baturetno, Wonogiri, akan menjadikan desa setempat sebagai tujuan agrowisata organik. Harapan itu ditarget terwujud 2019.

Penggerak program, Yazid Widodo, Minggu (1/10/2017), menyampaikan agrowisata organik di desanya sangat mungkin diwujudkan karena seluruh dusun sudah melaksanakan program, meski belum semua warga mengikutinya. Berdasar perwajahan, desa sudah dinilai layak sebagai tempat destinasi wisata pertanian, khususnya mengenai pemanfaatan lahan rumah.

Dia membeberkan sebagian besar pekarangan warga di dusun-dusun tampak asri karena dipenuhi tanaman sayuran, buah, dan berbagai bunga. Tanaman ditanam tanpa menggunakan pupuk kimia. Bahkan, ada yang dilengkapi tempat budi daya lele menggunakan sistem tertentu dan ayam arab. Terdapat pula taman yang berisi tanaman sayuran, buah, dan kolam ikan.

“Hampir setiap sore ada yang mengunjungi taman. Kebanyakan anak-anak bersama orang tua mereka. Mereka belajar mengenal alam sambil menikmati keasrian taman. Bahkan, cukup sering ada kelompok warga yang berkeliling dusun menggunakan kereta kelinci. Ini bukti awal kawasan Glesungrejo yang dipenuhi tanaman sayuran dan buah memiliki daya tarik,” kata Yazid.

Menjadi agrowisata tak cukup hanya bermodal itu. Menurut dia harus ada pusat pembuatan pupuk organik, baik cair maupun padat, insektisida organik, lahan percontohan, dan homestay atau penginapan. Saat ini tim sedang menyiapkannya.

Dia mengatakan sejumlah petani yang terlibat program sudah bisa membuat pupuk organik cair (POC) dan obat pembasmi hama. Saat ini Yazid sudah membuat tempat pembuatan pupuk organik di rumahnya.

“Kami masih mencari lahan yang sekiranya bisa dijadikan lahan percontohan,” imbuh Yazid.

Potensi wisata yang dimiliki Glesungrejo didukung potensi wisata alam Waduk Gajah Mungkur (WGM) yang letaknya tak jauh dari desa. Kawasan tepi waduk saat air penuh seperti pantai yang dipenuhi perahu-perahu nelayan. Lokasi tersebut akan dijadikan satu paket dengan agrowisata.

“Ibu-ibu sudah dilatih menjadi guide wisatawan. Peran ibu-ibu sangat menonjol karena sejak dulu yang menjalankan program memang KWT [kelompok wanita tani],” imbuh Yazid.

Sekarang pun, lanjut dia, sudah banyak petani dari kecamatan dan daerah lain yang berkunjung ke Glesungrejo. Mereka menimba ilmu cara mengembangkan program optimalisasi pekarangan rumah.

Sementara itu, Camat Baturetno, Teguh Setiyono, mengatakan Glesungrejo salah satu desa yang berpotensi dijadikan tempat wisata. Program optimalisasi pekarangan rumah di desa bersangkutan sudah menjadi percontohan nasional.

Desa lain yang memiliki potensi wisata di Baturetno adalah Watuagung dan Sendangrejo. Watuagung terdapat Bukit Jonambang dan Sendangrejo terdapat masjid tiban.

lowongan pekerjaan
SOLO GRAND MALL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…