Warga Desa Guwosari memprotes pembuangan limbah pabrik ke Sungai Bedog yang menyebabkan pencemaran ekosistem sungai, Minggu (5/6/2016). (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja) Warga Desa Guwosari memprotes pembuangan limbah pabrik ke Sungai Bedog yang menyebabkan pencemaran ekosistem sungai, Minggu (5/6/2016). (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 2 Oktober 2017 05:40 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PENCEMARAN LINGKUNGAN
Kualitas Air Sungai Winongo Memburuk

Hasil penelitian dengan metode biotilik menemukan kualitas air Sungai Winongo yang memburuk.

Solopos.com, JOGJA–Forum Komunikasi Winongo Asri menyebut sungai Winongo, khususnya yang mengalir di Kota Jogja dan Kabupaten Bantul mengalami pencemaran skala sedang akibat limbah rumah tangga dan limbah industri.

Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) Endang Rohjiani menyebut, kesimpulan tersebut didapatkan setelah pihaknya melakukan penelitian dengan metode biotilik. Biotilik merupakan pemantauan kualitas air yang menggunakan indikator makhuk hidup berupa makroinventebrata (serangga air, udang dan cacing).

Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan pengujian berkala sejak 2015 silam bersama Kelompok Studi Entomologi Fakultas Biologi UGM. “Sungai Winongo daerah atas sampai perbatasan Kecamatan Tegalrejo relatif masih baik. Dari jembatan Peta ke bawah tingkat pencemarannya lumayan,” jelas Endang di Kantor Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogja, Sabtu (30/9/2017).

Hasil penelurusannya timnya Endang mengatakan, penyebab air sungai tercemar karena di sekitarnya ada peternakan babi, sapi dan pabrik tahu. Sementara di daerah Tamansari berasal dari limbah batik. Pencemaran di Sungai Winongo lanjutnya, tidak hanya disebabkan oleh limbah industri saja, tapi juga dari limbah rumah tangga. Hal ini terjadi karena instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal tidak hanya digunakan untuk membuang tinja saja tapi juga limbah lain seperti sabun.

Baca Juga : PENCEMARAN LINGKUNGAN : Sungai Opak Tercemar Limbah Beracun

“Pengolahan tinja menjadi tidak sempurna karena zat kimia yang ada dalam sabun membuat bakteri pengolah jadi mati. Selain itu dari 28 IPAL di Kota Jogja sebanyak 40 persen diantaranya tidak berfungsi dengan baik,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal ini, ia menyarankan Pemerintah Kota Jogja, melalui Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman, agar melakukan sosialisasi lebih banyak kepada masyarakat. Sehingga warga tahu IPAL komunal hanya boleh digunakan untuk membuang tinja saja.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (05/01/2018). Esai ini karya Ahmad Halim, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Administrasi Jakarta Utara. Alamat e-mail penulis adalah ah181084@gmail.com Solopos.com, SOLO–Pemberlakuan UU No. 7/2017 tentang Pemilihan Umum (gabungan UU No. 8/2012, UU…