Tumpukan sampah di aliran Sungai Winongo tepatnya di Bendung Merdhiko Dusun Nglondong, Tamantirto, Kasihan, Bantul pada Minggu (1/10/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Tumpukan sampah di aliran Sungai Winongo tepatnya di Bendung Merdhiko Dusun Nglondong, Tamantirto, Kasihan, Bantul pada Minggu (1/10/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 2 Oktober 2017 08:40 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

PENCEMARAN LINGKUNGAN
Hujan Tiba Bantul Panen Sampah

Musim hujan menyebabkan volume sampah di Kabupaten bantul meningkat.

Harianjogja.com. BANTUL— Hujan yang sempat turun terus menerus beberapa hari terakhir membuat tumpukan sampah di beberapa sungai yang melintas di wilayah Kabupaten Bantul menggunung. Bantul yang jadi muara beberapa sungai besar panen sampah.

Salah satunya terlihat di Bendung Merdhiko, Sungai Winongo Dusun Glondong, Tirtonirmolo, Kasihan. Timbunan sampah baik berupa potongan dahan dan ranting pohon, plastik dan limbah rumah tangga lainnya menumpuk dan menjejali hampir tiga perempat luas sungai, tepat pada dam dengan ketinggian aliran air yang berbeda.

Kepala Dukuh Glondong, Yanto Eko Cahyono menuturkan kondisi tersebut sudah berlangsung sejak beberapa hari yang lalu saat hujan deras mulai turun. Timbunan sampah yang diprediksi terbawa aliran air hujan dari wilayah Sleman dan Kota, akhirnya macet di bendung pertama yang masuk wilayah Kabupaten Bantul ini. “Saat itu tinggi debit air mencapai 110 sentimeter, deras dan membawa sampah,” katanya di sela-sela pemantauan kualitas air dengan metode biotilik di Sungai Winongo pada Minggu (1/10/2017).

Padahal Eko menyebut pada Minggu (24/9/2017) pekan lalu, pihaknya telah mengadakan bersih sungai bersama dengan puluhan mahasiswa dari salah satu universitas di DIY. Kala itu, sampah yang berhasil diangkat dari aliran Sungai Winongo mencapai lebih dari satu truk. Namun saat hujan lebat turun pada Selasa (26/9/2017), sampah kembali menumpuk di bendung yang ia sebut sebagai penjaga gawang awal aliran Sungai Winongo itu. Kondisi tersebut masih berlangsung sampai sekarang karena hujan tak henti-hentinya turun sehingga menyulitkan tenaga honorer dari Bidang Sumber Daya Air (SDA) DIY untuk mengangkatnya. “Sampai sekarang belum dibersihkan karena membutuhkan waktu tiga sampai empat hari sampai benar-benar bersih,” katanya.

Baca Juga : KONFLIK TPST PIYUNGAN : Empat Tahun TPST Piyungan Overload

Eko menambahkan jika pada musim pancaroba seperti sekarang ini, dipastikan sampah akan tertahan dan menumpuk di dam. Sebab intensitas hujan tidak teratur. Namun pada musim penghujan, menurutnya sampah akan terus terbawa aliran air hingga hilir. Apalagi jika ketinggian dam dengan tingkatan air di bawahnya sejajar. Menyikapi hal tersebut, Eko mengatakan bakal berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, baik pemerintah ataupun lembaga lainnya untuk segera membersihkan tumpukan sampah yang menimbulkan bau tak sedap itu. Apalagi di Bendung Merdhiko ada mekanisme pemilahan air untuk saluran irigasi yang digunakan untuk mengairi 577 hektare sawah di sekitarnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Seksi Pengelolaan Jaringan Irigasi Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul, Yitno mengatakan, tumpukan sampah terjadi pada hampir seluruh aliran sungai besar yang bermuara di wilayah Kabupaten Bantul. Sebut saja adanya tumpukan sampah berupa rumpun bambu yang cukup besar di Sungai Bedog yang melintasi wilayah Desa Tirtonirmolo, Kasihan.

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

BERITA TERPOPULER
Crane Ambruk Hingga Cerita Foto Jokowi Lap Sepatu Pakai Tisu

Berita terpopuler Solopos.com hari ini adalah berita tentang Crane pembangunan hotel roboh menimpa rumah Ketua RT. Solopos.com, SOLO – Kecelakaan kerja terjadi dalam proses pembangunan Hotel Swiss Bell di Kampung Cinderejo Lor, RT002/RW006, Gilingan, Banjarsari, Solo. Crane milik PT Surya…