Ilustrasi uang (Cncb.com) Ilustrasi uang (Cncb.com)
Senin, 2 Oktober 2017 19:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

OJK DIY Buka Layanan Aduan, Warga Datang Sebatas Meminta Informasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka lebar kesempatan bagi masyarakat yang ingin mengadukan layanan keuangan

Solopos.com, JOGJA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka lebar kesempatan bagi masyarakat yang ingin mengadukan layanan keuangan, termasuk layanan asuransi. Sejauh ini, laporan tentang asuransi hanya sebatas meminta informasi.

Kepala OJK DIY, Untung Nugroho mengatakan, terhitung sejak Januari sampai September 2017, hanya ada enam orang yang mengadukan layanan asuransi. Sementara total jumlah aduan yang masuk sebanyak 125.

Masyarakat tidak melapor karena merasa dirugikan perusahaan tetapi lebih ingin menggali informasi tentang asuransi. “Data kami, aduan terkait asuransi adalah lebih ke pertanyaan tentang unit link, bukan asuransi bermasalah,” kata Untung, Jumat (29/9/2017).

Kepada para pelapor, Untung menjelaskan bahwa unit link merupakan asuransi dengan dua kantong, yaitu kantong untuk proteksi dan kantong investasi. Uang premi yang dibayarkan sebagian digunakan untuk membayar proteksi dan sebagian lagi ditempatkan untuk investasi.

Kendati jumlah pelapor yang merasa dirugikan nihil, tetapi di lapangan didapati masyarakat yang pernah bermasalah dengan perusahaan asuransi. Atik warga Kalasan, Sleman misalnya. Ia mengaku pernah bermasalah dengan asuransi saat uang premi yang dibayarkannya dibawa lari oleh agen sebuah asuransi yang beroperasi di Sleman.

Kasus tersebut terjadi pada awal tahun ini. Selama ini ia menitipkan uang premi kepada agen dan proses pembayarannya lancar. Namun selama empat bulan, diketahuinya uang tersebut tidak juga disetorkan kepada perusahaan karena alasan masalah keluarga dari agen tersebut.

Kasus tersebut sempat ia laporkan kepada kepala cabang perusahaan asuransi yang ia ikuti, tetapi tidak mendapat respon yang positif. “Seakan enggak mau ikut campur,” tuturnya.

Atik kemudian berupaya keras menghubungi agen yang bersangkutan dan meminta agar uangnya segera dikembalikan. Setelah berhasil dikonfirmasi, pada akhirnya agen tersebut bersedia mengembalikan uang senilai Rp2 juta. Atik mengakui kasus tersebut belum sampai ia laporkan kepada OJK karena sudah dapat ia selesaikan sendiri.

Meski pengaduan masalah layanan keuangan belum dilakukan masyarakat secara optimal, tetapi OJK mengklaim kesadaran masyarakat untuk melaporkan layanan jasa keuangan meningkat. Sebelumnya, Direktur Dukungan Penyidikan OJK Pusat Tongam L Tobing mengatakan, jika dibandingkan jumlah pengaduan tahun sebelumnya, pengaduan layanan jasa keuangan tahun ini meningkat dua kali lipat.

lowongan pekerjaan
KLINIK BERSALIN UTAMA RB. DR. JOHAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (05/01/2018). Esai ini karya Ahmad Halim, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Administrasi Jakarta Utara. Alamat e-mail penulis adalah ah181084@gmail.com Solopos.com, SOLO–Pemberlakuan UU No. 7/2017 tentang Pemilihan Umum (gabungan UU No. 8/2012, UU…