Sejumlah warga memanen ikan gurami di Dusun Sarengan, Srigading, Sanden, Bantul, Jumat (29/9/2017). (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah warga memanen ikan gurami di Dusun Sarengan, Srigading, Sanden, Bantul, Jumat (29/9/2017). (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 2 Oktober 2017 18:20 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

KELILING PROJOTAMANSARI
Cari Gurame, Datanglah ke Srigading

Dusun Sarengan, Desa Srigading, Sanden telah menjadi salah satu sentra produsen ikan gurame di Bantul

Solopos.com, BANTUL– Dusun Sarengan, Desa Srigading, Sanden telah menjadi salah satu sentra produsen ikan gurame di Bantul. Berton-ton ikan gurame diedarkan ke berbagai wilayah di DIY dari Sarengan.

Dusun yang terletak di wilayah paling selatan Kabupaten Bantul ini memilki 18 kolam ikan yang dikelola melalui kelompok peternak ikan Tombo Ati.

“Jumlah 18 kolam itu belum termasuk, ikan di bak-bak rumah warga. bahkan tombo Ati ini ada unit usaha peternakan ikan gurame juga di dusun lain masih desa yang sama,” ungkap Bagian Pemasaran Kelompok Peternak Ikan Tombo Ati, Sumarno, Jumat (29/9/2017).

Sebanyak 18 kolam itu menghasilkan sedikitnya enam ton ikan gurame sekali panen. Dalam setahun, panen ikan gurame dilakukan paling cepat enam bulan sekali, delapan bulan hingga setahun sekali.

Saat ini kata Sumarno harga ikan gurami per kilogram di tingkat petani mencapai Rp28.000 hingga Rp30.000. “Sebenarnya turun, biasanya Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram,” tutur dia.

Turunnya harga gurami disebabkan melimpahnya pasokan ikan gurame dari wilayah Jawa Timur. Kendati harga turun, beternak gurame menurut Sumarno lebih menguntungkan dari pada ikan lainnya seperti lele.

Pakan ikan gurame misalnya, tidak seluruhnya bergantung pada pelet namun juga dedaunan hijau yang bisa diambil gratis oleh warga dari lingkungan sekitar. Alhasil, dari sisi biaya pakan bisa ditekan. Sementara harga gurame jauh lebih mahal dari lele.

“Kalau lele cuma untung berapa ribu rupiah per ekor, kalau gurame misalnya berat tiga kilo, satu kilo untuk balik modal pakan, satu kilo bibit, satu kilonya lagi untuk keuntungan,” ujarnya.

Selama ini, gurame telah menjadi salah satu ekonomi alternatif di Sarengan, terutama untuk membiayai kebutuhan musiman seperti uang kuliah atau sekolah. Ekonomi warga pun ikut terangkat berkat usaha peternakan tersebut.

Sedikitnya ada 16 keluarga yang beternak ikan gurami di Sarengan belum termasuk di dusun lain yang juga merupakan unit usaha Tombo Ati. Keuntungan beternak gurame lanjutnya telah memotovasi warga lainnya di Desa Srigading untuk beternak ikan. Tombo Ati misalnya, telah mengembangkan usaha perikanan serupa di Dusun Celep, Desa Srigading.

Sayangnya kata dia, upaya memperluas peternakan gurame di Sanden terkendala modal. Untuk mengoperasikan kolam ikan, butuh modal hingga Rp7,5 juta. Mulai dari menyewa lahan pertanian untuk dijadikan kolam, membeli bibit dan pakan hingga membangun kolam.

Keterbatasan modal menyebabkan tak semua warga di Sarengan bisa memilih beternak ikan. Ia berharap, pemerintah turut membantu permodalan peternakan gurame tersebut.

lowongan pekerjaan
STAFF ADMINISTRASI & KEUANGAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

BERITA TERPOPULER
Crane Ambruk Hingga Cerita Foto Jokowi Lap Sepatu Pakai Tisu

Berita terpopuler Solopos.com hari ini adalah berita tentang Crane pembangunan hotel roboh menimpa rumah Ketua RT. Solopos.com, SOLO – Kecelakaan kerja terjadi dalam proses pembangunan Hotel Swiss Bell di Kampung Cinderejo Lor, RT002/RW006, Gilingan, Banjarsari, Solo. Crane milik PT Surya…