Bupati Sleman Sri Purnomo saat memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Minggu (1/10/2017) di Lapangan Pemda Sleman. (Foto istimewa) Bupati Sleman Sri Purnomo saat memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Minggu (1/10/2017) di Lapangan Pemda Sleman. (Foto istimewa)
Senin, 2 Oktober 2017 00:20 WIB Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

HARI KESAKTIAN PANCASILA
Saatnya Kembali Menggali Sejarah Perkembangan Bangsa

Pancasila merupakan jati diri bangsa. Tidak hanya sebagai falsafah dan ideologi

Solopos.com, SLEMAN– Pancasila merupakan jati diri bangsa. Tidak hanya sebagai falsafah dan ideologi, Pancasila juga menjadi alat pemersatu bangsa Indonesia.

Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan, Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk. Kondisi ini dapat terjadi karena di dalam perjalanan sejarah dan adanya kompleksitas keberadaan bangsa Indonesia. Mulai keragaman suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta warna kulit jauh berbeda.

“Satu sama lain tetapi mutlak harus dipersatukan melalui nilai dasar Pancasila,” katanya saat menjadi inspektur pada Upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Minggu (1/10/2017) di Lapangan Pemda Sleman.

Upacara tersebut juga dihadiri Ketua DPRD Sleman, Dandim 0732/Sleman, Wakapolres, PNS, TNI/Polri, dan sejumlah siswa-siswi di wilayah Sleman.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila kali ini, katanya, masyarakat dapat menggali kembali sejarah perkembangan bangsa. Pancasila dipandang sebagai sistem filsafat, etika moral, politik, dan Ideologi Nasional.

Munculnya Gerakan 30 September (G 30 S PKI) yang berusaha mengubah Pancasila menjadi ideologi komunis semakin meneguhkan kesadaran untuk mempertahankan Pancasila.

“Hari Kesaktian Pancasila pun ditetapkan untuk memperingati bahwa dasar Negara Indonesia adalah Pancasila, yang sakti dan tak tergantikan,” katanya.

Pada 10 November 1986,  Pancasila pertama kali diperkenalkan sebagai ideologi terbuka, di mana Pancasila dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman yang senantiasa dinamis dengan tanpa mengesampingkan nilai-nilai dasarnya yang tetap.

“Semua pihak diharapkan dapat meresapi nilai-nilai luhur yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa untuk dapat merekat erat sebagai kepribadian bangsa,” katanya.

Masyarakat, lanjut Sri,wajib untuk meningkatkan kewaspadaan nasional dan ketahanan mental ideologi Pancasila. Seperti halnya kewaspadaan tantangan globalisasi, liberalisasi dan postmodernisme.

Kemampuan menghadapi tantangan mendasar yang akan melanda kehidupan bangsa seperti sosial-ekonomi dan politik, bahkan mental dan moral bangsa. Hanya dengan keyakinan nasional inilah manusia Indonesia tegak dan tegar dengan keyakinannya yang benar dan terpercaya.

“Sistem filsafat Pancasila sebagai bagian dari filsafat Timur, mengandung dan memancarkan identitas dan integritas martabatnya,” kata Sri.

lowongan pekerjaan
SOLO GRAND MALL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

PENGHUJAN 2017
BPBD Jateng: Jangan Main Ponsel saat Hujan!

Penghujan 2017 disongsong BPBD Jateng dengan mengingatkan masyarakat agar tak menggunakan telepon seluler saat hujan. Solopos.com, SEMARANG — Menjelang puncak musim penghujan 2017, masyarakat Jawa Tengah diingatkan agar tidak menggunakan pesawat telepon seluler (ponsel) saat hujan. Bermain ponsel saat hujan…