Wakil Bupati Wonogiri, Edy Santosa (kanan), melihat proses jamasan pusaka di kawasan Wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Minggu (1/10/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Wakil Bupati Wonogiri, Edy Santosa (kanan), melihat proses jamasan pusaka di kawasan Wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Minggu (1/10/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Minggu, 1 Oktober 2017 20:35 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

WISATA WONOGIRI
Sepi Penonton, Jamasan Pusaka bakal Terus Digelar

Jamasan pusaka tiap Sura di objek wisata WGM bakal terus digelar meski sepi penonton.

Solopos.com, WONOGIRI — Pemkab Wonogiri memastikan agenda tahunan Jamasan Pusaka dan Ruwatan Masal di objek wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) bakal tetap digelar pada tahun-tahun mendatang meski jumlah penontonnya terus berkurang.

Seperti pada acara Jamasan Pusaka dan Ruwatan Masal, Minggu (1/10/2017). Hanya ada puluhan penonton yang menyaksikan acara tersebut. Padahal beberapa tahun lalu acara tersebut menyedot ribuan penonton yang mengikuti dari kirab sampai jamasan di WGM.

Kendati demikian, event tersebut akan terus digelar tiap tahun sebagai upaya melestarikan budaya lokal. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri menggelar jamasan delapan pusaka dan ruwatan di kawasan WGM, Minggu.

Kabid Kebudayaan Disdikbud Wonogiri, Eko Sunarsono, saat ditemui Solopos.com di lokasi kegiatan menilai event jamasan pusaka yang bertujuan menanamkan nilai-nilai luhur budaya bangsa kepada masyarakat mulai ditinggalkan penonton.

Meski demikian, Eko mengatakan jamasan pusakan akan tetap digelar tiap tahun agar budaya lokal Wonogiri terus lestari. Terlebih, pusaka yang dijamasi merupakan produk budaya yang berkaitan dengan sejarah berdirinya Wonogiri.

Pusaka itu di antaranya Keris Kyai Korowelang, Tombak Kyai Totog, dan Tombak Kyai Jaladara. Ketiganya merupakan senjata Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa yang merupakan pendiri telatah Wonogiri. Sudah selayaknya warga Wonogiri melestarikan dan menghargainya. Pusaka lain yang dijamas adalah Tombak Semar Tinandu.

“Semangat melestarikan budaya Wonogiri harus terus ada. Kami akan menanamkan nilai-nilai budaya ini kepada para siswa di sekolah. Ini sangat memungkinkan karena sekarang kami bersatu dengan urusan pendidikan,” kata Eko.

Dia menginformasikan selain jamasan pusaka, dalam kegiatan tersebut digelar pula ruwatan atau tolak bala bagi warga. Ruwatan diikuti 41 orang dari berbagai daerah, seperti Wonogiri, Jogja, dan Jakarta. Peserta tidak dipungut biaya alias gratis.

Salah satu peserta ruwatan, Endri, 38, ikut ruwatan untuk menjauhkan dirinya dan kakak perempuannya dari hal-hal yang bisa merusak hubungan persaudaraan. Warga Jogja itu mengaku sejak lima tahun terakhir berselisih dengan kakaknya karena suatu hal.

Perselisihan terjadi setelah dia dan kakaknya berkeluarga. “Seolah ada yang membuat kami terus beda pandangan. Semoga setelah diruwat ke depan tidak ada lagi perselisihan dengan kakak saya. Orang tua kami sudah tidak ada. Kami tak ingin mereka tak tenang melihat kami terus berselisih,” ulas Endri.

Berbeda halnya dengan Galih. Remaja 19 tahun asal Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, itu mengikuti ruwatan hanya menuruti keinginan orang tuanya. Dia tak mengetahui alasan orang tuanya mengikutsertakannya dan adik perempuannya ruwatan. Galih hanya ingin membuat orang tuanya senang.

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…