Pengguna jalan melintas di jalan Sambirejo-Keyongan, Plupuh, Sragen, pekan lalu. (Kurniawan/JIBI/Solopos) Pengguna jalan melintas di jalan Sambirejo-Keyongan, Plupuh, Sragen, pekan lalu. (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Minggu, 1 Oktober 2017 18:35 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Sragen Share :

INFRASTRUKTUR SRAGEN
Proyek Jalan Sambirejo-Keyongan Mandek 3 Pekan, Warga Geram

Infrastruktur Sragen, proyek perbaikan jalan Sambirejo-Keyongan sudah tiga pekan ini mandek.

Solopos.com, SRAGEN — Proyek peningkatan jalan Keyongan-Sambirejo, Plupuh, Sragen, senilai Rp3,8 miliar sudah tiga pekan ini mandek di tengah jalan. Kondisi tersebut membuat warga geram.

Keberadaan perangkat proyek mengganggu aktivitas sehari-hari warga. Warga juga khawatir pengerjaan proyek tak rampung dan akan menyisakan segudang masalah.

Pantauan Solopos.com, pekan lalu, proyek pengecoran jalan sudah berjalan sebagian. Satu jalur jalan sudah dicor puluhan meter mulai dari Pertigaan Brumbung hingga Keyongan.

Beberapa warga langsung ngudarasa ihwal pengerjaan proyek saat ditemui awak media. Mereka mempertanyakan alasan mandeknya pengerjaan proyek tersebut.

“Perbaikan dimulai sekitar dua bulan lalu. Tapi dua pekan lebih mandek tanpa ada kejelasan. Padahal jalan sudah diorak-arik,” ujar salah seorang warga diamini warga lainnya.

Lantaran geram dengan ulah kontraktor, suatu malam warga menyingkirkan beberapa besi untuk pengecoran yang sudah dipasang. Keberadaan besi mengganggu aktivitas warga.

“Karena dua pekan lebih tidak ada pekerjaan, besi-besi yang sudah dipasang, akhirnya disingkirkan karena warga tidak bisa lewat,” ujar Sumardi, 64, warga Keyongan.

Dia meminta kontraktor segera melanjutkan pekerjaan mereka agar bisa rampung sesuai jadwal. “Tolong segera dikerjakan sesuai spesifikasi di dokumen kontrak,” imbuh dia.

Terpisah, Ketua Komisi III DPRD Sragen, Sugiyarto, menyayangkan bila ada pengerjaan proyek yang mandek. Dia meminta pengawas Dinas PUPR mengambil tindakan tegas.

“Kalau mandeknya sampai lebih dari dua pekan itu bisa memengaruhi tahapan pengerjaan. Kalau dibiarkan saja bisa mengancam penyelesaian proyek sesuai kontrak,” kata dia.

Politikus PDIP itu meminta pengawas proyek aktif ke lapangan memantau pelaksanaan proyek. Jangan sampai ada kontraktor nakal tak memakai material sesuai spesifikasi.

“Kalau pengawasannya baik, saya yakin infrastruktur yang gencar dibangun ini akan punya lifetime lama. Jadi tidak sedikit-sedikit rusak dan butuh perbaikan lagi,” tutur dia.

Di sisi lain, pengerjaan tujuh proyek peningkatan jalan tahun 2017 disorot lantaran diduga tak sesuai spesifikasi. Ketujuh proyek itu salah satunya peningkatan jalan Sambirejo-Keyongan, Plupuh.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sragen, Marija, saat diwawancarai wartawan pekan lalu mengaku sudah menerjunkan tim untuk mengecek spesifikasi material di sejumlah proyek. Hasilnya material beberapa proyek sudah sesuai spesifikasi seperti diameter wiremesh dan statusnya yang sudah SNI. “Ternyata baik diameter maupun SNI nya sudah betul, tidak menyalahi,” ujar dia.

Tapi, Marija mengakui ada kontraktor yang mengganti spesifikasi besi polos dengan besi ulir untuk kerangka cor jalan karena dinilai lebih baik. Padahal fungsi dua jenis besi itu berbeda.

“Sudah kami suruh ganti. Kalau besi kan memang harusnya polos. Tapi malah pakai besi ulir. Kalau secara kekuatan memang iya [lebih kuat] tapi fungsinya beda. Dikira lebih baik tapi tidak, fungsinya beda ,” kata dia.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…