Tulisan Welcome to Geopark Gunungsewu terpampang di jalur bokong semar di Jalan Jogja-Wonosari, Kecamatan Patuk, Rabu (7/5/2014). (JIBI/ Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah)
Minggu, 1 Oktober 2017 23:40 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

GEOPARK GUNUNGSEWU
Pemerintah Tak Berani Gelar Konferensi Internasional

Otoritas Geopark Gunungsewu menolak menjadi tuan rumah konferensi APGN 2019

Solopos.com, GUNUNGKIDUL— Kawasan Karst Geopark Gunungsewu mendapatkan kesempatan langka untuk menjadi tuan rumah konferensi Asia Pasific Geoparks Network (APGN) pada 2019 mendatang. Permasalahan anggaran menjadi pertimbangan sendiri sehingga akhirnya tuan rumah konferensi diserahkan ke Geopark Rinjani, Lombok.

Bupati Gunungkidul Badingah mengakui, peluang Gunungsewu menjadi tuan rumah konferensi APGN ke-6 di 2019 sangatlah besar. Hal ini terlihat dalam penyelenggaraan konferensi di Zhinjindong, Tiongkok pada 18-22 September 2017. Dalam kegiatan tersebut, APGN meminta Gunungsewu menjadi penyelenggara berikutnya.

Sayangnya, kesempatan tesebut menjadi sia-sia karena perwakilan dari Gunungsewu belum berani mengambil kesempatan menjadi tuan ruman even yang diselenggarakan dua tahunan ini. Badingah berasalan, selain waktu penunjukan yang terhitung dadakan, masalah biaya juga menjadi pertimbangan sehingga menolak permintaan tersebut. “Dana yang dibutuhkan sangat besar dan kami tidak punya itu. Jadi sebagai gantinya APGN menunjuk Rinjani, Lombok sebagai tuan rumah di konferensi mendatang,” katanya kepada wartawan, pekan lalu. .

Meski membuang kesempatan menjadi tuan rumah, Badingah mengaku hal tersebut bukan menjadi masalah yang harus diratapi. Pasalnya, yang terpenting dari pertemuan adalah wacana mempertahankan keanggotaan Gunungsewu dalam Global Geopark Network yang dinaungi oleh UNESCO. “Kita akan divalidasi ulang pada 2019. Jadi di waktu yang ada ini, akan terus berusaha agar predikat GGN dapat dipertahankan,” tegas Badingah.

Sekretaris Gunungsewu Geopark, Hary Sukmono mengakui masalah biaya menjadi faktor utama menolak permintaan APGN untuk menjadi tuan rumah dalam konferensi. Meski belum menghitung detil biaya yang dibutuhkan, ia berpendapat nominal yang dibutuhkan sangat besar karena peserta yang hadir mencapai 800 orang yang berasal dari 13 negara. “Akomodasi banyak ditanggung oleh penyelenggara [tuan rumah]. Jadi bisa membayangkan sendiri berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk memfasilitasi ratusan peserta yang hadir,” kata Hary.

Menurut dia, permasalahan lain penolakan, di kawasan geopark Gunungsewu tidak memiliki lokasi representative untuk penyelenggaraan konferensi. Dia mencontohkan, penyelenggaraan di Zhijindong, Tiongkok memiliki area yang luas dan mampu menampung seluruh peserta. “Tempat yang dibutuhkan untuk pertemuan seperti Jogja Expo Center [JEC]. Memang kalau dari sisi lokasi situs untuk kunjungan peserta sudah sangat memadai, tapi untuk gelaran pertemuan itu yang belum dimiliki,” imbuh Sekretaris Dinas Pariwisata ini.

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…