Ilustrasi tanah longsor (JIBI/Solopos/Antara) Ilustrasi tanah longsor (JIBI/Solopos/Antara)
Jumat, 29 September 2017 20:20 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

BENCANA BANTUL
Ratusan Keluarga di Pleret Terancam Tanah Longsor

Ratusan Kepala Keluarga (KK) di Desa Wonolelo, Pleret terancam bencana tanah longsor

Solopos.com, BANTUL — Ratusan Kepala Keluarga (KK) di Desa Wonolelo, Pleret terancam bencana tanah longsor. Pasalnya hampir seluruh tanah di wilayah desa tersebut merupakan bukit yang berkontur tanah padas yang rawan ambrol saat musim hujan.

Peristiwa terbaru pada Rabu (27/9/2017) malam lalu, hujan deras yang baru pertama kali turun menyebabkan longsor yang disertai pohon tumbang di Dusun Bojong RT 03, Wonolelo. Kejadian ini mengakibatkan teras rumah Aris Kurniawan rusak ringan dan jalan antar kampung sempat terputus.

Kamis (28/9/2017) pagi, puluhan warga berupaya membuka akses jalan yang tertutup material longsor dibantu personel Polsek dan Koramil Pleret. Selain menyingkitkan material longsor, warga juga memotong batang pohon yang membuat lima rumah di dusun tersebut terisolir selama satu malam.

Longsornya tebing setinggi tiga meter dengan panjang hampir sepuluh meter tersebut memang dibarengi dengan tumbangnya sebuah pohon berdiameter hampir 40 cm.

Ditemui saat melakukan kerja bakti, Kepala Dukuh Bojong Eko Purwanto menuturkan hujan deras tersebut baru pertama kali turun di wilayahnya. Menurutnya dari Rabu (27/9/2017) siang hingga malam hujan tak henti-hentinya mengguyur meskipun sempat berhenti pada sore hari.

Kemudian pada pukul 19.30 WIB ia mendengar suara keras yang kemudian diketahui merupakan suara ambrolnya tebing dan robohnya pohon yang menimpa atap teras rumah Aris yang tempat berada di samping rumahnya. “Saat itu di rumah Aris tidak ada orang, sedang ke masjid karena kejadiannya setelah isya persis,” katanya.

Setelah melapor kepada forum pengurangan resiko bencana (FPRB) Wonolelo, batang pohon tersebut langsung dipotong dan tidak menyebabkan kerusakan yang lebih parah. Menurut Eko longsoran yang terjadi ini dipicu tersumbatnya selokan yang berada di punggung bukit sisi timur rumah.

Selokan yang selalu dialiri air saat penghujan itu tersumbat sampah daun dan ranting popohonan. Tidak kuat menahan tumpukan air, selokan tersebut akhirnya jebol disusul longsoran tebing di bawahnya.

Pihaknya mengakui kali ini warga belum bersiap menghadapi musim penghujan ini. “Biasanya sebelum musim hujan warga kerja bakti tapi kemarin belum sempat jadi tersumbat dan jebol,” terangnya.

Sementara itu, Koordinator FPRB Desa Wonolelo, Ahmad Furqon menyebut di Wonolelo memang banyak selokan yang berfungsi untuk mengalirkan air hujan dari atas bukit menuju ke lembah. Selokan tersebut selama musim kemarau dipenuhi sampah dedaunan dan ranting.

Ketika terjadi hujan lebat dapat dipastikan sampah tesebut akan terbawa air dan menumpuk di ujung selokan. “Kalau sudah jebol seperti ini tidak diperbaiki bisa masuk ke pakarangan rumah,” katanya.

Furqon mengatakan dari delapan padukuhan yang ada, lima padukuhan yakni Bojong, Ploso, Cegokan, Purworejo dan Kedungrejo terancam bahaya tanah longsor. Pasalnya lima padukuhan tersebut berada di wilayah perbukitan dan banyak warganya yang mendirikan rumah di lereng bukit. Setiap memasuki musim penghujan warga menambah kewaspadaan. Apalagi dapat dipastikan kejadian tanah longsor selalu berulang setiap tahunnya.

“Ada ratusan KK yang rawan kena longsor,” tuturnya. Maka menurutnya kini FPRB sesang menggiatkan sosialisasi untuk meningkatkan kewaspadaan warga. Sebab tak hanya tanah longsor saja, potensi angin kencang juga tinggi menilik banyaknya pohon besar di perbukitan Desa Wonolelo.

Furqon menambahkan sejak 2014 lalu beberapa warga yang berada di zona rawan bencana sudah berhasil direlokasi melalui skema relokasi mandiri relokasi desa. Relokasi mandiri artinya warga berpindah ke lahan pribadi yang lebih aman, sedangkan relokasi desa warga membangun rumah di lahan kas desa seluas 5000 meter persegi yang khusus diperuntukkan sebagai lokasi relokasi.

Lahan kas desa yang berada di Dusun Ploso RT 05 tersebut saat ini sudah ditempati oleh sekitar 10 KK. “Sampai sekarang sekitar 18 KK yang sudah relokasi,” pungkasnya.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…