Siswa SD Muhammadiyah Suronatan bekerja bakti di Musala sekitar sekolah, Jumat (22/9/2017). (Foto : IST Dokumen SD Muhammadiyah Suronatan) Siswa SD Muhammadiyah Suronatan bekerja bakti di Musala sekitar sekolah, Jumat (22/9/2017). (Foto : IST Dokumen SD Muhammadiyah Suronatan)
Senin, 25 September 2017 04:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Kaya Nilai Historis, SD Muhammadiyah Suronatan Sering Jadi Referensi

SD Muhammadiyah Suronatan Kota Jogja merupakan sebuah sekolah yang berada di bawah naungan Muhammadiyah

Solopos.com, JOGJA- Di sebuah gang dengan lebar sekitar dua meter. Tepatnya menghubungkan dari timur Jalan Ny. Ahmad Dahlan dengan di barat Jalan Takwa, Notoprajan, Kota Jogja.

Norma berlaku bagi masyarakat, harus turun dari sepeda ketika akan melintas di gang yang hanya berjarak 100 meter dari titik nol kilometer Kota Jogja ini. Di gang ini jualah, KH. Ahmad Dahlan 99 tahun silam mendirikan sekolah rakyat yang dikenal dengan sekolah standar.

Lembaga ini menjadi satu-satunya sekolah Islam swasta di kala itu. Kini lembaga itu masih berdiri dengan kesederhanaannya di tengah padat pemukiman penduduk. Itulah SD Muhammadiyah Suronatan Kota Jogja, sebuah sekolah yang berada di bawah naungan Muhammadiyah.

Sekolah ini menjadi sekolah swasta tertua di Indonesia terutama di lingkungan Muhammadiyah. Pada awalnya sekolah ini bernama Standart School didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918, namun belum ada referensi yang pasti mengenai tanggal berdirinya.

Sekolah ini berdiri di atas lahan seluas 1.513 meter persegi, dengan luas bangunan 996 meter persegi, sebagian merupakan tiga lantai. Pada tahun ajaran 2017/2018 ini, jumlah siswa mencapai 489 anak, terdiri atas 12 rombongan belajar, setiap rombongan dengan jumlah rata-rata 40 siswa setiap kelasnya.

“Jumlah ini masih bisa bertambah mengingat banyaknya calon siswa pindahan dari luar provinsi yang berminat sekolah di SD Muhammadiyah Suronatan. Namun mengingat keterbatasan ruang dan lahan, maka terpaksa tidak bisa diterima,” terang Kepala SD Muhammadiyah Suronatan Budiyono, Sabtu (23/9/2017).

Menurutnya, pada tahun ajaran ini saja, untuk kelas I hanya bisa menerima 80 siswa dari jumlah pendaftar 121 calon siswa. Sedangkan untuk siswa pindahan dari luar daerah menerima sembilan siswa. Secara nasional telah dikenal dan menjadi referensi untuk kunjungan studi banding dan studi wisata. Karena adanya nilai historis sebagai sekolah Muhammadiyah tertua, selain sebagai sekolah yang memiliki prestasi di beberapa bidang.

Ia menambahkan, menjadi sekolah referensi, menuntutnya untuk terus berbenah, meningkatkan mutu pelayanan dan mutu lulusan. Tidak sekedar tingginya nilai kelulusan saja, tapi juga harus diikuti dengan  karakter lulusan yang baik.

Sekolah juga berusaha memenuhi tuntutan masyarakat yang menyekolahkan anaknya di SD Muhammadiyah Suronatan, terutama dari sisi akhlak dan pemahaman agama. “Dari berbagai daerah di Indonesia sering melakukan studi banding di sini, karena ada nilai historis,” ujarnya.

Karena itu pihaknya berupaya membentuk siswa unggul berdasarkan Imtak dan Iptek. Serta sesuai misi, menumbuhkan suasana islami dalam kehidupan sehari-hari, kemudian melaksanakan belajar mengajar secara intensif sehingga potensi siswa dapat berkembang dengan baik

“Lalu, mengembangkan potensi warga sekolah untuk mencapai tingkat keunggulan. Tak lupa, meningkatkan kedisiplinan dalam berbagai aspek sehingga menjadi manusia unggul yang berakhlakulkarimah,” tegasnya.

lowongan pekerjaan
KONSULTAN PERENCANAAN BANGUNAN GUDANG, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Pancaroba, Kenali Bencana yang Berpotensi Terjadi di Wilayahmu

Saat ini kondisi cuaca di Jogja sedang berada pada masa Pancaroba Solopos.com, SLEMAN– Prakirawan Cuaca dari Baadan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja , Indah Retno Wulan, mengatakan saat ini kondisi cuaca di Jogja sedang berada pada masa Pancaroba. Masa…