Widodo, 25, warga Dusun Kalipakem, Seloharjo, Pundong di lahan cabai miliknya pada Minggu (17/9/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Widodo, 25, warga Dusun Kalipakem, Seloharjo, Pundong di lahan cabai miliknya pada Minggu (17/9/2017). (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 25 September 2017 09:20 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

HARGA CABAI
Waspadai Anjloknya Harga di Waktu Mendatang

Pemkab Bantul kini mewaspadai berulangnya penurunan harga cabai menjelang musim panen cabai beberapa

Solopos.com, BANTUL– Pemkab Bantul kini mewaspadai berulangnya penurunan harga cabai menjelang musim panen cabai beberapa waktu ke depan. Petani masih dihantui anjloknya harga komoditas cabai.

Anjloknya cabai hingga ke harga Rp5.000 per keilogram beberapa waktu lalu sepertinya akan kembali terjadi. Padahal, beberapa hari terakhir, harga cabai sudah mulai mernagkak naik menyentuh angka Rp7.500 di tingkat petani.

Pasalnya, memasuki Oktober nanti petani di wilayah pesisir Bantul akan kembali melakukan panen raya cabai. “Pada bulan Oktober, ada skeitar 100-an hektare lahan cabai yang akan dipanen bersamaan,” kata Kepala Dinas Pertanian Pangan Keluatan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi, Minggu (24/9/2017).

Seperti yang telah terjadi selama ini, panen raya kerap menyebabkan harga komoditas pertanian menurun lantaran pasokan barang melimpah. Saat ini kata Pulung Haryadi, pemerintah tengah berfikir keras bagaimana mencegah agar harga tidak jatuh terlalu dalam.

Sejumlah skenario kini disiapkan pemerintah untuk mencegah agar harga tidak terlalu anjlok. Aantara lain menyiapkan lelang cabai. “Lelang cabai ini dengan mengundang pedagang dari luar ke sini. Biasanya kalau melibatkan pedagang dair luar harganya bisa sedikit naik,” ujar dia.

Para petani kata Pulung diimbau tidak hanya fokus menjual komoditas pertanian mereka di wilayah Bantul. Sebab, pasokan cabai di wilayah ini dipastikan bakal melimpah.

Salah seorang petani cabai di Srihardono, Pundong Bantul Kristiono mengatakan, petani masih akan dihantui anjloknya harga dalam beberapa waktu ke depan. “Saat ini saja harga cabai masih Rp5.000 perkilogram di petani. Kesulitan mau jual ke mana,” ungkap Kristiono.

Ia mengkiritisi pola kebijakan pemerintah yang kerap menggelontorkan bantuan bibit cabai dalam jumlah banyak serta dalam waktu penanaman yang serentak. Sebab menurutnya, penanaman pada waktu yang sama dengan jumlah bibit yang banyak akan menyebabkan petani panen secara bersamaan sehingga memicu anjloknya harga cabai.

“Pemerintah itu kan sebelumnya pernah memberi bantuan bibit banyak dan ditanam bersamaan. Tanamnya bersamaan anjloknya juga bersamaan kalau begini,”kritik dia.

Kristiono sendiri memilih menanam beragam tanaman pada satu musim panen. Dia memilih menanam satu petak lahan cabai serta menanam tanaman lain seperti jagung atau kacang-kacangan di petak lahan lainnya meski dalam jumlah kecil.

“Seandainya harga cabai anjlok, saya masih punya gantungan ke tanaman lain yang harganya enggak anjlok. Jadi sebaiknya jangan menanam satu jenis tanaman dalam jumlah banyak. Apalagi petani lain juga menanam tanaman sama,” tutur dia.

lowongan pekerjaan
Penerbit Ziyad Visi Media, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

TELEKOMUNIKASI WONOGIRI
Bandel, 10 Menara BTS Tak Berizin Disegel

Satpol PP Wonogiri menyegel 10 menara telekomunikasi yang belum lengkap perizinannya. Solopos.com, WONOGIRI — Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Wonogiri menyegel 10 menara atau tower base transceiver station (BTS) di beberapa kecamatan dalam sepekan terakhir. Menara BTS itu disegel…