Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (depan, kedua dari kiri) me-launching IAIN Ponorogo yang sebelumnya bernama STAIN Ponorogo di kampus II IAIN Ponorogo, Desa Pintu, Kecamatan Jenangan, Rabu (10/5/2017) pagi. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (depan, kedua dari kiri) me-launching IAIN Ponorogo yang sebelumnya bernama STAIN Ponorogo di kampus II IAIN Ponorogo, Desa Pintu, Kecamatan Jenangan, Rabu (10/5/2017) pagi. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Minggu, 24 September 2017 17:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Menteri Agama Persilakan Pihak yang Ingin Membuat Ulang Film G30S/PKI

Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin tak mempermasalahkan jika ada pihak yang ingin memutar kembali film Pengkhiatan G30s/PKI

Solopos.com, JOGJA–Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin tak mempermasalahkan jika ada pihak yang ingin memutar kembali film Pengkhiatan G30s/PKI. Namun, ia juga menyatakan pihak-pihak yang ingin membuat film baru dengan tema yang sama juga harus tetap diberi ruang.

“Film itu dengan segala situasi dan kondisinya akan melahirkan keragaman penafsiran terhadap fakta sejarah. Faktanya hanya satu, tapi cara orang memahami fakta yang satu itu beragam karena sudut pandangnya yang berbeda. Sehingga tidak perlu mengingkari film itu sama sekali. Silakan saja bagi yang ingin menonton,” kata Lukman Hakim Saifuddin di Eastparc Hotel, Sabtu (23/9/2017).

Sebagaimana diketahui, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo telah memerintahkan semua jajarannya untuk kembali menonton film Pengkhiatan G30s/PKI.

Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa bangsa Indonesia pernah merasakan masa kelam, sehingga masa kelam itu diharapkan tidak kembali terjadi.

Walau tak mempermasalahkan pemutaran film yang disutradari oleh Arifin C. Noer tersebut, tapi Lukman juga menyatakan semua pihak harus tetap memberikan peluang bagi siapa pun yang ingin membuat film baru dengan mengangkat tema serupa.

“Harus tetap diberi ruang bagi yang ingin membuat film baru untuk menvisualisasikan fakta sejarah. Biarlah masyarakat yang sudut pandangnya beragam itu agar mendapat kearifannya dalam memahami masa lalu,” jelas Lukman.

Dalam kesempatan tersebut ia juga memberikan imbauan kepada semua elemen masyarakat agar jangan menghabiskan seluruh energi dan waktu yang dipunya untuk mempertengkarkan masa lalu. Lukman menyebut masa lalu, apalagi yang kelam, tidak boleh terlalu membelenggu kehidupan sehingga masa depan pun tercecer.

“Kita harus lebih mengedepankan masa depan. Jangan seluruh energi dan waktu yang kita punya digunakan untuk mempersoalkan masa lalu, apalagi masa lalu yang kelam. Sudah seharusnya seluruh energi dan waktu yang dipunyai lebih diperuntukkan bagi masa depan,” tutupnya.

lowongan pekerjaan
, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…