Penonton antusias menyaksikan atraksi grup drumblek Gayatri Orlando asal Ampel, Boyolali, di halaman Pendopo Alit Rumah Dinas Bupati Boyolali, Jumat (22/9/2017) sore. (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Penonton antusias menyaksikan atraksi grup drumblek Gayatri Orlando asal Ampel, Boyolali, di halaman Pendopo Alit Rumah Dinas Bupati Boyolali, Jumat (22/9/2017) sore. (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Minggu, 24 September 2017 14:47 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Unik, Atraksi Drumblek di Acara Pasar Kangen Boyolali

Acara Pasar Kangen yang digelar Pemkab Boyolali selama dua hari sejak Jumat hingga Sabtu (22-23/9/2017) di kompleks Pendopo Rumah Dinas Bupati Boyolali.

Solopos.com, BOYOLALI--Entakan irama musik drumben yang berasal dari bass drum snar, balera dan lainnya selalu membangkitkan semangat. Tapi kali ini suara-suara tersebut bukan berasal dari drumben melainkan dari drumblek.

Pada dramblek, peralatan musik yang dibuat dari barang bekas ini menghasilkan suara yang sama dengan drumben. Bahkan, dengan pemilihan lagu dan aransemen yang apik, penampilan drumblek terlihat lebih unik.

Seperti yang ditampilkan grup drumblek Gayatri Orlando asal Margosuci, Desa Ngadirojo, Kecamatan Ampel, Boyolali, atraksi mereka di halaman Pendopo Alit Rumah Dinas Bupati Boyolali, Jumat (22/9/2017) sore, tak kalah menarik dengan atraksi drumben yang biasa kita lihat.

Grup yang terdiri atas 12 penari, 18 pemain musik dan 6 mayoret ini juga mampu mengentak semangat penonton yang menyaksikan penampilan mereka. Ditunjang dengan kostum yang menarik, mereka memaku penonton untuk bertahan di tempat mereka.

Lagu daerah asal Papua, Yamko RambeYamko dibawakan dengan rancak penuh semangat oleh para pemain yang terdiri atas anak-anak hingga usia orang tua ini. Disusul lagu daerah lain asal Jawa Tengah Cublak-Cublak Suweng, para pemain tampak lihai dengan peran mereka masing-masing.

Seorang penonton, Suharti, 25, pun mengaku kagum dengan kelihaian para pemain. Selain itu, dia juga terkesan dengan atraksi seni dari alat musik barang bekas tersebut.

“Mirip drumben, tapi alat-alat musiknya unik karena dibuat dari barang bekas,” kata dia.

Pengasuh Gayatri Orlando, Dalmini, 39, mengatakan, drumblek memang merupakan perwujudan dari semangat green. Memanfaatkan barang bekas, drumblek sekaligus mengekpresikan seni para pemainnya.

Sementara itu, kelihaian mereka tersebut tak lepas dari usaha keras para anggotanya yang berlatih selema sebulan sebelum penampilan mereka itu. “Untuk acara ini, mereka latihan sebulan. Biasanya mereka latihan sepekan sekali,” ujarnya di sela-sela acara.

Sementara itu, penampilan drumblek ini salah satu dari rangkaian acara Pasar Kangen yang digelar Pemkab Boyolali selama dua hari sejak Jumat hingga Sabtu (22-23/9/2017) di kompleks Pendopo Rumah Dinas Bupati Boyolali.

Pada Jumat, selain atraksi drumblek, acara juga dimeriahkan dengan senam, lomba tari anak, musik keroncong, dan penampilan musik humor kelompok Suara Ratan.

Sedangkan pada Sabtu, acara antara lain dimeriahkan dengan lomba menyanyi dan ditutup dengan penampilan orkes humor Pecas Ndahe dari Solo.

 

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…