Sebuah mobil keluar dari kawasan wisata Embung Nglanggeran, Desa Nglanggeran, Patuk, Minggu (26/2/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Sebuah mobil keluar dari kawasan wisata Embung Nglanggeran, Desa Nglanggeran, Patuk, Minggu (26/2/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 21 September 2017 11:21 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

WISATA GUNUNGKIDUL
Nglanggeran Kenalkan Kampung Pitu, Apa Keistimewaannya?

Wisata Gunungkidul, Nglanggeran memiliki objek baru

Solopos.com, GUNUNGKIDUL –Kelompok Sadar Wisata Desa Nglanggeran tengah mempersiapkan satu objek wisata baru yang mengedepankan keunikan kebudayaan setempat. Objek wisata tersebut adalah Kampung Pitu, atau kampung yang hanya boleh didiami oleh tujuh kepala keluarga.

“Saat ini kami sedang mempersiapkan semuanya. Mulai dari infrastruktur di sana dan juga kesiapan masyarakatnya sendiri,” kata Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Nglanggeran, Sugeng Handoko di sela-sela pagelaran wayang di Lapangan Karang, Desa Nglanggeran, Senin (18/9/2017).

Ia mengungkapkan, Kampung Pitu adalah permukiman yang berlokasi di Puncak Gunung Api Purba bagian timur. Hal utama yang akan ditawarkan kepada wisatawan, ujar Sugeng, adalah keunikan budaya yang dimiliki oleh Kampung pitu.

Menurutnya, Kampung Pitu adalah tempat yang unik karena sedari dulu jumlah kepala keluarga (KK) yang diperbolehkan tinggal hanya sebanyak tujuh KK saja. Sugeng menyebut kampung itu terkenal akan gaya hidupnya yang sangat mengutamakan kelestarian alam.

“Menurut mitos yang ada, kampung itu terbentuk karena dulu di sana ada kayu keramat yang hanya bisa dijaga oleh empu pitu. Lalu kemudian empu-empu itu beranak pinak dan sampai sekarang hanya boleh tujuh KK saja yang tinggal,” tutur Sugeng.

Untuk menjaga budaya tersebut, sambung Sugeng, maka dibuatlah sistem kependudukan yang berisi aturan yang mengharuskan anak bungsu sebagai pihak yang bertempat tinggal di Kampung Pitu. Sementara untuk saudara-sauudaranya wajib keluar kampung dan mencari penghidupan di luar.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…