Peziarah didampingi oleh salah satu juru kunci berdoa sebagai ungkapan rasa syukur pada malam satu Suro, Rabu (20/9/2017) di kompleks Cepuri Parangkusumo. (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja) Peziarah didampingi oleh salah satu juru kunci berdoa sebagai ungkapan rasa syukur pada malam satu Suro, Rabu (20/9/2017) di kompleks Cepuri Parangkusumo. (Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 21 September 2017 16:15 WIB Rheisnayu Cyntara/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

MALAM 1 SURO
Kisah Pemburu Bunga Kanthil di Pantai Parangkusumo

Malam 1 Muharram atau yang lebih dikenal sebagai malam 1 Suro menjadi salah satu waktu penting bagi masyarakat Jawa untuk ngalap (mencari) berkah

Solopos.com, BANTUL– Malam 1 Muharram atau yang lebih dikenal sebagai malam 1 Suro menjadi salah satu waktu penting bagi masyarakat Jawa untuk ngalap (memburu) berkah, memohon pada Yang Maha Kuasa agar dikabulkan permintaannya. Warga banyak memadati tempat-tempat yang dianggap keramat, salah satunya Pantai Parangkusumo.

Debur ombak menggema. Bergulung-gulung, bergemuruh, lalu memecah di tepian pantai. Suasana gelap gulita, siluet-siluet manusia berdiri bergerombol di beberapa titik tepi pantai. Beberapa diantaranya berjalan menunduk-nunduk, menyorot senter pada pasir Pantai Parangkusumo yang berwarna hitam pekat.

Mereka menyoroti kelopak-kelopak bunga mawar merah dan putih yang telah terlepas dari tangkainya, berserakan membentuk garis lengkung pada bekas sapuan ombak di atas pasir pantai.

“Madosi kembang kanthil [mencari bunga kanthil],” ucap Samsu, 64, sambil merapatkan jaketnya, Rabu (20/9/2017) malam.

Topi berwarna coklat muda menutupi rambutnya yang telah memutih, celananya ia singsingkan sampai lutut, jaketnya tebal menutup hingga leher. Angin malam itu memang berkesiut kencang dan cuaca sedang cerah-cerahnya. Samsu berhenti sejenak dari perburuannya mencari kembang kanthil.

Ia menuturkan sudah sering datang ke Pantai Parangkusumo untuk berdoa maupun ngalap berkah setiap Selasa atau Jumat Kliwon. Setiap hari-hari khusus tersebut bisa dipastikan kawasan Pantai Parangkusumo akan dipadati peziarah.

Apalagi saat satu Suro seperti sekarang ini, menurutnya tak hanya warga Yogyakarta dan sekitarnya saja namun juga luar daerah bahkan luar Jawa berduyun-duyun datang.

Samsu yang berasal dari Klaten ini pun menyediakan waktu khusus untuk berziarah selama dua hari satu malam, mulai Rabu (20/9/2017) hingga Kamis (21/9/2017).

Usai berdoa di kawasan Cepuri, ia lantas menuju pantai untuk mencari bunga kanthil yang biasanya dilarung dengan kembang setaman lainnya oleh para peziarah. Ia percaya jika mendapatkan bunga kanthil maka permohonannya akan lekas terwujud.

“Kalau dapat, dimasukin dompet. Jadi laris usahanya,” ujarnya sambil sesekali menyoroti serakan bunga di pasir pantai.

Samsu menuturkan ia merupakan seorang pedagang sekaligus agen bus, penglaris semacam ini amatlah penting baginya. Ia lalu pamit undur diri, kembali menyusuri pantai dengan mata yang jeli.

Malam itu, sepanjang jalan dari pinggir pantai menuju kawasan Cepuri padat. Pedagang tiban menggelar dagangannya di kanan kiri jalan. Mulai dari penjaja makanan, sandang, klitikan, onderdil, batu akik, hingga tukang obat berebut merayu orang yang lalu lalang agar mau mampir barang sejenak di lapaknya. Pengeras suara berbunyi dari segala sisi, satu tukang obat dengan lainnya tak mau kalah bersaing.

Pun dengan kompleks Cepuri, tiga juru kunci yang berjaga di depan gerbangnya tak pernah berhenti melayani para peziarah yang datang silih berganti. Gerbang Cepuri berada di sisi selatan menghadap laut. Gerbang ini berbentuk gapura paduraksa, dilengkapi dengan pintu berbentuk jeruji yang terbuat dari kayu.

Para juru kunci yang berada di kanan kiri gerbang mengenakan blangkon, baju peranakan berwarna biru, jarik dan bertelanjang kaki. Tiap peziarah yang membawa kembang setaman dalam bungkusan plastik ditukar nampan kecil untuk kemudian dibawa ke dalam kompleks Cepuri.

Sesepuh juru kunci Pamancingan, Mas Penewu Surakso Jaladri menjelaskan bahwa hingga orang Jawa masih berpegang teguh pada simbol-simbol. Bunga kanthil berarti kecintaan/keridhoan Yang Maha Kuasa yang berkorelasi dengan permohonan yang dipanjatkan oleh para peziarah.

Mereka percaya jika usai berdoa kemudian mendapatkan bunga kanthil maka Yang Maha Kuasa meridhoi doanya. “Niku artine tresno ingkang makanthil-kanthil [itu artinya cinta yang teramat dalam], kalau dapat [bunga kanthil] akan terkabul doanya,” tuturnya.

Tak heran jika banyak peziarah rela duduk berjam-jam di sekitar Sela Ageng dan Sela Sengker, dua batu gilang yang dipercaya menjadi tempat mesubrata Danang Sutawijaya. Mereka menunggu peziarah lain menaburkan kembang setaman dan kemudian berebut mengais-ais untuk mendapatkan bunga kanthil yang diidam-idamkan.

Jika berhasil mendapatnya, mereka lekas-lekas menyimpannya untuk dibawa pulang. “Kalau bakul-bakul di Beringharjo biasanya disimpan di dalam dompet” pungkas Mas Penewu Surakso Jaladri.

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…