Kirab Festival Garis Imajiner 2017 yang digelar Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman, Kamis (21/9/2017) sore melewati Jalan Monjali Kota Jogja. (Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja) Kirab Festival Garis Imajiner 2017 yang digelar Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman, Kamis (21/9/2017) sore melewati Jalan Monjali Kota Jogja. (Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 21 September 2017 22:20 WIB Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Festival Garis Imajiner, Penghubung Merapi, Keraton dan Pantai Selatan Digelar di Kali Code

Ribuan orang menyaksikan Festival Garis Imajiner 2017 yang digelar Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman, Kamis (21/9/2017) sore.

Solopos.com, SLEMAN- Ribuan orang menyaksikan Festival Garis Imajiner 2017 yang digelar Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman, Kamis (21/9/2017) sore. Festival yang digelar di bantaran Kali Code tersebut akan berlangsung hingga Sabtu (23/9/2017) di kali Code, Blunyah Gede, Sinduadi, Mlati.

Festival tersebut diawali dengan kegiatan Kirab Budaya dari tiga titik keberangkatan. Mulai Monumen Jogja Kembali (Monjali) Pasar Kutu dan Hotel Tentrem. Iringan kirab bersama-sama menuju Jembatan Baru UGM. Di lokasi tersebut disediakan panggung pergelaran seni budaya yang melibatkan 21 grup seni budaya.

Pertunjukan budaya digelar malam hari di panggung bawah jembatan baru UGM. Salah satunya, pagelaran sendratari akbar dengan melibatkan lima penata tari muda seperti Hajar Wisnu Satoto, Gaung Rakayan Kinanta, Dewi Lustyaningrum, Icuk Ismunandar dan Ari Kusumaningrum.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman HY Aji Wulantara menjelaskan, arak-arakan tersebut merupakan Kirab Megangampak Hangrangin (Arak-arak yang dipenuji semilir angin). Melibatkan banyak kelompok seni dan budaya.

“Kami ajak mereka untuk aktif melestarikan seni dan budaya,” kata Aji di sela-sela kegiatan.

Dia menjelaskan, garis imajiner merupakan salah satu penanda istimewa DIY. Garis bayangan tersebut merupakan garis penghubung antara Gunung Merapi, Keraton dan Pantai Selatan. Wilayah Sleman, katanya, masuk di garis imajiner Jogja. “Kalau sumbu imajiner itu menghubungkan antara Panggung Krapyak, Kraton, Tugu,”katanya.

Ajang festival tersebut digagas untuk membangkitkan dan melestarikan budaya yang selama ini berada di masyarakat. Festival tersebut digelar sebagai wujud apresiasi kekayaan budaya yang adiluhung. “Kami ingin membangun Sleman yang berbudaya,” harapnya.

Beragam pagelaran seni juga disiapkan selama festival. Seperti pegelaran seni kerakyatan Sleman Hanengsemi (Sleman yang mempesona), dan pergelaran seni kerakyatan dan pertunjukan budaya Mataram Mangarsi (kehadiran Mataram).

Selain itu juga dipentaskan juga kelompok kethoprak dan wayang kulit yang menampilkan  tiga dalang senior Ki Edy Suwondo, Ki Bayu Sugati dan Ki Sutikno serta lima dalang cilik mulai Zaku Kaditama, Aditya Sandhi Sadewa, Bernadeta Astri Putri, Geang Bayu Tetuko dan Davin Mahatma.

lowongan pekerjaan
STAFF ADMINISTRASI & KEUANGAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…