Komandan Kodim 0725/Sragen Letkol (Arh) Camas Sigit Prasetyo duduk paling depan saat nobar film G 30/S PKI di Makodim Sragen, Rabu (20/9/2017) malam. (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Komandan Kodim 0725/Sragen Letkol (Arh) Camas Sigit Prasetyo duduk paling depan saat nobar film G 30/S PKI di Makodim Sragen, Rabu (20/9/2017) malam. (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Kamis, 21 September 2017 22:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Baru Berjalan 1,5 Jam, Nobar Film G 30/S PKI di Kodim Sragen Ditinggalkan Penonton

 

Kodim Sragen menggelar acara menonton bareng film G 30/S PKI di halaman Makodim.

Solopos.com, SRAGEN — Ratusan prajurit bersama keluarga mereka membaur dengan masyarakat umum memadati halaman Makodim 0725/Sragen, Rabu (20/9/2017) malam. Mereka menggelar tikar bersama anak-anak.

Pandangan mereka tertuju pada layar tancap berukuran 2 meter x 2 meter yang terkena sorotan proyektor. Di layar itulah adegan film G 30/S PKI diputar.

Film buatan era Orde Baru itu tak seperti film masa kini. Kualitas gambarnya redup dan sulit membedakan adegan malam dan siang hari. Semula para warga dan TNI antusias menyaksikan film yang pernah dilarang tayang sejak masa reformasi itu.

Namun, setelah 1,5 jam, film itu mulai ditinggalkan penontonnya. Satu demi satu penonton beranjak dan pulang ke rumah. Hanya puluhan orang yang bertahan termasuk Dandim 0725/Sragen Letkol (Arh) Camas Sigit Prasetyo.

Zaki, salah satu siswa kelas III SD asal Widoro RT 06/RW 002, Kelurahan Sragen Wetan, Sragen, ikut menonton bersama ayahnya yang juga seorang kepala lingkungan (kaling) di Kelurahan Sragen Tengah. Zaki yang baru berumur sembilan tahun itu tak mengenal Partai Komunis Indonesia (PKI) karena memang belum mendapat pelajaran tentang sejarah partai terlarang itu selama di sekolah.

“Saya tidak tahu apa itu PKI. Baru sekali ini melihat film tentang G 30/S,” katanya didampingi ayahnya, Hartono, 44.

Berbeda dengan Revandi, 15, siswa kelas X SMAN 1 Gondang, Sragen, yang datang bersama ayah dan ibunya. Revandi yang juga anak seorang TNI sedikit banyak tahu tentang PKI karena pernah mendapat pelajaran sejarah PKI di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

“Saya baru kali ini melihat film G 30/S PKI. Ya, saya semakin tahu bahwa PKI itu tidak boleh diikuti karena pahamnya dilarang di Indonesia. PKI itu tidak benar,” kata pelajar kelahiran 2002 di Dukuh Kenatan, Desa Bumiaji, Gondang itu.

Nonton bareng film G 30/S PKI dimulai pukul 19.00 WIB-22.40 WIB dan diikuti 225 orang. Nonton bareng itu bukan untuk menyambut Tahun Baru Hijriah tetapi untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober.

Sebelum nonton bareng (nonbar) dimulai, Dandim memberi pengarahan tentang maksud dan tujuan nonbar. “Nonbar ini sebenarnya untuk mengingatkan kembali kepada anggota dan keluarga serta masyarakat umum tentang bahaya ideologi komunisme. Nonbar ini juga memberi pelajaran kepada generasi muda tentang adanya sejarah kelam bangsa ini akibat pengkhianatan PKI yang digambarkan dalam film itu,” ujar Dandim saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela nonbar tersebut, Rabu malam.

Dandim sadar film G 30/S itu banyak menayangkan adegan kekerasan sehingga orang tua harus mendampingi dan memberi arahan kepada anak-anak yang ikut menonton. Dia berharap orang tua bisa menyampaikan alur cerita yang benar sehingga bisa menjelaskan kekejaman dan kekejian PKI pada kala itu.

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…