Joko Pramono salah satu penyintas yang selamat dari percobaan bunuh diri asal Dusun Gading VIII, Desa Gading, Kecamatan Playen. Kamis (24/8/2017). (JIBI/Irwan A. Syambudi) Joko Pramono salah satu penyintas yang selamat dari percobaan bunuh diri asal Dusun Gading VIII, Desa Gading, Kecamatan Playen. Kamis (24/8/2017). (JIBI/Irwan A. Syambudi)
Senin, 18 September 2017 19:55 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Kesaksian Seorang Penyintas yang Selamat dari Percobaan Bunuh Diri

Di Kabupaten Gunungkidul setiap tahun ada puluhan nyawa yang melayang sia-sia karena bunuh diri

Solopos.com, GUNUNGKIDUL– Di Kabupaten Gunungkidul setiap tahun ada puluhan nyawa yang melayang sia-sia karena bunuh diri. Namun dari puluhan orang, terdapat satu hingga tiga orang penyintas yang beruntung terselamatkan dari percobaan bunuh diri.

Pada suatu petang di bulan keempat 2015, Joko Pramono, 25, merasakan panas yang tak terkira pada batang tenggorokan hingga organ pencernaannya. Tubun seketika lemas dan kepalanya pusing hingga membuatnya lunglai. Sebenarnya pemuda asal Dusun Gading VIII, Desa Gading, Kecamatan Playen ini tidak menginginkan rasa sakit itu, yang dia inginkan hanyalah kematian.

Dia berharap beberapa mililiter cairan pembersih lantai di dalam botol menjadi pengantar ajal untuknya. Bersama dengan pikirannya yang kalut, dia yang kala itu berada di rumah sendirian meraih sebotol cairan pembersih untuk ditenggak. Tidak ada hitungan menit, reaksi cairan yang masuk ke tenggorokannya itu langsung membuat dia tak berdaya.

Rasa panas yang sedang dia rasakan bersama pikiran kalutnya ternyata belum menjadi akhir kehidupannya. Bersamaan dengan ajalnya yang sudah berada diujung tanjuk, terbersit sebuah penyesalan.

Joko bergegas, terhenyak berjalan sempoyongan menuju rumah tetangganya. Sambil menahan rasa panas pada tenggorokannya, dia mengatakan kepada tetanganya bahwa dia baru saja meracuni diri dengan cairan pembersih lantai.

“Dengan setengah sadar saya lari ke rumah tetangga. Saya ceritakan kepada tengga apa yang saya lakukan. Setelah itu saya tidak ingat lagi apa yang terjadi. Tahu-tahu saya sudah berada di rumah sakit,” katanya saat ditemui Solopos.com, Kamis (24/8/2017).

Beruntung, Joko mendapatkan pertolongan cepat sehingga racun yang telah ditelan tak sampai merenggut hayatnya. Belakangan saat kondisinya pulih, dia menyadari bahwa banyak orang yang perduli, menyayangi dan memberikan pertolongan tanpa pamrih kepadanya.

Selama ini dia merasa hidupnya begitu berat hingga akhirnya muncul niat untuk menandaskan kehidupannya. Joko bercerita bagaimana kehidupan masa kecilnya tidak seperti anak-anak pada umunya. Sedari kecil dia diasuh oleh kakek dan neneknya dari bagian ibu. Sementara kedua orang tuanya telah berpisah dan ibunya sehari-hari bekerja di Kota Jogja sebagai pembantu rumah tangga.

Kasih sayang kakek dan nenek, serta ibunya memang penuh, namun sosok bapak yang melindunginya tak pernah dia temui. Perihatin dengan kondisi ibunya yang banting tulang menafkahi keluarga, Joko memutuskan berhenti sekolah saat ia baru memasuki kelas VII SMP barang sepekan.

Dia memilih bekerja untuk membantu mencari uang untuk kebutuhannya sehari-hari. Diumurnya yang masih terbilang belia, dia belajar bekerja bersama sejumlah tetangganya sebagai buruh penebang pohon. Kerja serabutan sebagai buruh pun dilakoninya hingga saat ini.

Hidup yang berat dan akumulasi masalah pribadi, termasuk hubungannya dengan lawan jenis yang tidak berjalan baik membuatnya depresi. “Masalah pribadi dengan orang luar, kalau dengan keluarga dan teman malah tidak ada,” ungkapnya.

Kelak, Joko akhirnya menyadari bahwa dia tidak memiliki tempat untuk berbagi mencurahkan isi hatinya. Masalah-masalah yang kerap muncul hanya ia pendam sendiri membatu di kepalanya, hingga akhinya dia ingin pecahkan batu itu sekaligus dengan mengakhiri hidupnya.

“Meskipun tidak bisa menyembuhkan, setidaknya kalau menceritakan masalah dengan orang tua ataupun teman bisa meringankan beban. Dan dengan bantuan mereka, jika sebelumnya punya niat [bunuh diri] pasti bisa mikirkannya lagi,” ujar dia.

Joko mengaku telah melewati masa krisis kepercayaan dan jati diri yang sebelumnya dia alami. Dia ingin melupakan kejadian dua tahun lalu dan menjadikannya pelajaran untuk melanjutkan hidup. Terlebih penerimaan masyarakat selama ini cukup baik kepadanya.

Tidak ada label negatif seorang penyintas yang dialamatkan kepadanya. Bahkan saat ini dia dipekerjakan oleh tetangganya sebagai pengantar galon air isi ulang, dan tukang cuci kendaraan.

Salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang melakukan pendampingan terhadap para penyintas, yakni Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji), mencatat setiap tahunnya ada satu sampai tiga orang yang yang dapat selamat dari percobaan bunuh diri.

Wakil Sekretaris Imaji, Basuki Rahmanto mengatakan terdapat tiga penyintas yang saat ini pihaknya dampingi. Namun tidak semua penyintas yang didampingi mau terbuka dan langsung dapat disadarkan.

“Masih ada yang tidak terbuka dan bahkan masih ada yang memiliki niat untuk melakukan bunuh diri lagi. Kalau Joko itu sudah move on, dia sudah beraktivitas seperti sediakala,” kata dia.

lowongan pekerjaan
PT. BUMI AKSARA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mencari Alamat Bahasa Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (06/01/2018). Esai ini karya Na’imatur Rofiqoh, ”pemukul” huruf dan juru gambar yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah naimaturr@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Bahasa Indonesia tidak lagi beralamat di Indonesia. Indonesia malah jadi tempat…