Kerangka bangunan pendapa ditempatkan di kompleks Kantor Desa Wiro, Kecamatan Bayat, setelah diarak sejauh 1,5 km, Senin (18/9/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Kerangka bangunan pendapa ditempatkan di kompleks Kantor Desa Wiro, Kecamatan Bayat, setelah diarak sejauh 1,5 km, Senin (18/9/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Senin, 18 September 2017 22:35 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

200 Warga Wiro Klaten Gotong Kerangka Pendapa Desa Sejauh 1,5 Km

Warga Desa Wiro, Bayat, Klaten, bergotong royong memindahkan kerangka bangunan pendapa desa.

Solopos.com, KLATEN — Warga Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Klaten, beramai-ramai memikul delapan tiang penyangga bangunan joglo yang bagian ujung atasnya masih terhubung pada balok, Senin (18/9/2017) pagi.

Kerangka bangunan tradisional itu dipanggul warga diiringi arak-arakan tokoh masyarakat serta kesenian tradisional seperti reog dan jathilan dari lapangan hingga kantor desa setempat yang berjarak 1,5 km.

Kerangka bangunan yang dipikul itu memiliki panjang 8 meter dan lebar 4,4 meter. Setiap tiang berupa balok dengan lebar 20 sentimeter dan tinggi 3,5 meter. Saking beratnya bangunan berupa kayu jati itu dibutuhkan 200 orang untuk memikul.

Proses pemindahan membutuhkan waktu sekitar 50 menit. Saban 7 meter hingga 8 meter melangkah, arak-arakan warga berhenti sesaat untuk pergantian warga memikul. Lagu Holopis Kuntul Baris terus dinyanyikan bersama-sama sebagai penyemangat mereka memikul tiang penyangga tersebut.

Tiang penyangga yang diarak merupakan bagian bangunan bekas kantor Desa Mandungan, Kecamatan Bayat, yang berlokasi tak jauh dari lapangan Desa Wiro. Bangunan itu didirikan sekitar 1952.

Kepala Desa Wiro, Agus Riyadi, mengatakan pada 1960-an Desa Mandungan bergabung dengan Desa Wiro. Penggabungan itu membuat seluruh kegiatan perkantoran Pemerintah Desa Mandungan digabung ke kantor Desa Wiro.

Setelah tak terpakai, bekas kantor Desa Mandungan dimanfaatkan untuk SDN 4 Wiro hingga 1985. “Sejak saat itu sampai sekarang bangunan tidak dimanfaatkan,” kata Agus saat ditemui wartawan di sela-sela kegiatan pemindahan kerangka pendapa.

Rencana pemindahan bangunan kantor Desa Mandungan membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk mempersiapkan proses pembongkaran serta jumlah pemikul. Pembongkaran bangunan dilakukan sekitar lima hari lalu, dilanjutkan memasang bambu untuk memanggul tiang penyangga bekas bangunan kantor desa.

Agus menjelaskan seluruh bagian bangunan berbahan kayu jati itu dipindah di kompleks Kantor Desa Wiro. Bekas kantor desa itu rencananya dimanfaatkan untuk pendapa Desa Wiro tempat pertemuan warga. Proses pembangunan pendapa menggunakan dana dari pendapatan asli desa senilai Rp100 juta.

Soal alasan pemanfaatan bangunan bekas kantor desa menjadi pendapa, Agus mengatakan karena mayoritas bagian bangunan masih utuh. “Kami ingin melestarikan bekas bangunan karena selama ini kurang difungsikan. Proses pemindahan ini juga untuk mengguyubkan warga sekaligus menjaga kerukunan lewat gotong royong,” kata dia.

Sesepuh Desa Wiro, Amri Pudjo Harjono, 77, juga mengatakan proses pemindahan dilakukan dengan arak-arakan hingga proses tumpengan dimaksudkan untuk menggerakkan seluruh warga bergotong royong. Ia hanya berharap bekas bangunan kantor desa itu bisa dimanfaatkan dalam jangka waktu lama.

“Harapan saya ini semua bisa diberikan selamat dan bangunan dimanfaatkan secara turun temurun. Bangunannya masih awet dalam jangka waktu lama,” urainya.

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…