Penampilan maskot SIPA 2017, Eko Supriyanto, membuka acara di Benteng Vastenburg Solo, Kamis (7/9/2017) malam. (Nicolaus Irawan/JIBI/Solopos) Penampilan maskot SIPA 2017, Eko Supriyanto, membuka acara di Benteng Vastenburg Solo, Kamis (7/9/2017) malam. (Nicolaus Irawan/JIBI/Solopos)
Minggu, 17 September 2017 21:58 WIB Ika Yuniati/JIBI/Solopos Issue Share :

Cry Jailolo Karya Eko Supriyanto Ikut Dongkrak Pariwisata Halmahera

Tarian karya koreografer Solo, Eko Supriyanto, Cry Jailolo ternyata ikut mendongkrak pariwisata Halmahera.

Solopos.com, SOLO--Dua tari karya koreografer Solo Eko Supriyanto atau Eko Pece yang terinspirasi dari keindahan laut Teluk Jailolo Cry Jailolo dan Balabala telah dipentaskan keliling dunia sejak beberapa tahun terakhir.

Agenda pertunjukan maha karya yang didukung pemuda asli Jailolo bersama Eko’s Dance Company ini bahkan sudah terjadwal hingga 2018. Salah satunya sebagai pembuka Solo International Performing Art (SIPA) 2017, Kamis (7/9/2017) malam.

Saat dipentaskan di SIPA tersebut, Cry Jailolo disambut tepuk tangan meriah ribuan penonton. Meski berdurasi agak panjang, beberapa pengunjung menikmati tarian yang menguras energi ini. Bupati Halmahera Barat, Danny Missy, seusai acara mengatakan meski dibuat oleh warga Solo, Cry Jailolo telah menjadi ikon tarian di wilayahnya.

Seperti mimpi, nama Jailolo semakin mendunia salah satunya berkat tarian tersebut. Begitu juga dengan anak muda di wilayahnya. Eko bersama timnya berhasil menggali potensi tari generasi muda di wilayah Jailolo. “Sebelum ini mereka lulus sekolah hanya berpikir untuk pergi ke ladang atau menjadi petani. Tapi setelah Cry Jailolo mimpi mereka semakin luas. Mereka bisa keliling dunia lewat tarian,” kata dia saat jumpa pers belum lama ini.

Saat ini pemerintah setempat telah memberikan beasiswa kuliah penuh di ISI Solo kepada para penari Cry Jailolo dan Balabala. Setelah menyelesaikan studinya di Solo mereka diminta kembali ke Halmahera Barat untuk mengembangkan potensi daerahnya dan menularkan semangat bagi pemuda lain.

Tak hanya soal tari, Danny, mengatakan Cry Jailolo dan Balabala telah mendongkrak perkembangan pariwisata di wilayahnya. Sejak beberapa tahun terakhir, kata dia, banyak wisatawan mancanegara yang berdatangan ke Halmahera Barat. Beberapa di antaranya mengatakan tertarik dengan pulau rempah tersebut setelah sebelumnya menyaksikan pentas tari Cry Jailolo. Sampai hari ini mereka juga konsisten menyelenggarakan agenda tahunan Festival Teluk Jailolo yang mengangkat
potensi alam, seni budaya, dan adat istiadat tanah Jailolo.

“Ini adalah kabar baik. Tari tak hanya mempromosikan kekayaan budaya tetapi juga berhasil menawarkan potensi wisata daerah. Kami berterima kasih banyak kepada Eko [Supriyanto]. Promosi seperti ini bisa dicontoh daerah lain,” kata dia.

 

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI & KEUANGAN BISNIS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Kanibalisasi Akademis

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (11/01/2018). Esai ini karya Abdul Gaffar, mahasiswa Program Doktoral Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah c.guevar@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dunia akademis (kampus) dihebohkan dengan isu kapitalisasi dan kanibalisasi akademis sebagai akibat…