Seorang pasien terbaring di ruang isolasi RSJ Kendari dalam kondisi tak sadar seusai mengonsumsi obat sejenis somadril dan tramadol berlebihan di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (14/9/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Jojon/Pras) Seorang pasien terbaring di ruang isolasi RSJ Kendari dalam kondisi tak sadar seusai mengonsumsi obat sejenis somadril dan tramadol berlebihan di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (14/9/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Jojon/Pras)
Sabtu, 16 September 2017 14:22 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

NARKOBA GUNUNGKIDUL
Waspadai Peredaran Pil PCC, Razia & Sosialisasi Dirutinkan

Narkoba Gunungkidul, peredaran pil PCC diantisipasi sejak dini

Solopos.com, GUNUNGKIDUL – Jajaran Satuan Reserse dan Narkoba Polres Gunungkidul terus melakukan pengawasan terhadap perederan pil PCC secara illegal. Untuk menekan peredaran tersebut, pihak kepolisian sudah menjadwalkan penyuluhan ke sejumlah apotik di Bumi Handayani.

Kepala Satreskoba Polres Gunungkidul AKP Riko Sanjaya mengakui hingga sekarang belum ditemukan peredaran PCC secara illegal. Namun, ia meminta seluruh anggota untuk mewaspadai potensi peredaran.

“Memang belum ada, tapi kami akan berusaha menangkal agar peredaran bisa ditekan,” kata Riko kepada Solopos.com, Jumat (15/9/2017).

Menurut dia, jika mengacu pada dosis yang dimiliki, PCC termasuk dalam jenis psikotropika. Sebagai dampaknya, obat ini tidak bisa bebas diperjualbelikan karena untuk mendapatkannya harus disertai dengan resep dokter.

“Obat ini memang bisa dijual di pasaran, tapi untuk membelinya harus ada resep dari dokter,” ujarnya.

Untuk mencegah peredaran obat itu, Riko menyiapkan beberapa langkah. Selain rutin menggelar razia, juga akan dilakukan sosialisasi ke apotek tentang peredaran.

“Sudah kami jadwalkan. Nanti petugas akan mendatangi ke apotek untuk melakukan pengecekan dan juga mensosialisasikan perihal tata cara penjualan,” katanya lagi.

Riko menjelaskan, pil ini berfungsi untuk meredakan rasa nyeri bagi penderita penyakit jantung sehingga tidak bisa sembarangan digunakan.

“Kalau digunakan tanpa resep dokter akibatnya bisa fatal,” ujarnya.

Menurut dia, upaya pengawasan yang dilakukan tidak hanya untuk peredaran PCC, namun juga menyasar obat keras lainnya seperti trihexypenidyl dan alprazolam.

“Obat-obatan ini harganya terhitung murah sehingga bisa menyasar ke semua kalangan. Jadi kami akan terus melakukan pengawasan sehingga peredarannya dapat ditekan,” imbuhnya.

lowongan pekerjaan
CV PRIMEDANIE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…