Seorang pasien terbaring di ruang isolasi RSJ Kendari dalam kondisi tak sadar seusai mengonsumsi obat sejenis somadril dan tramadol berlebihan di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (14/9/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Jojon/Pras) Seorang pasien terbaring di ruang isolasi RSJ Kendari dalam kondisi tak sadar seusai mengonsumsi obat sejenis somadril dan tramadol berlebihan di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (14/9/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Jojon/Pras)
Jumat, 15 September 2017 13:45 WIB JIBI/Solopos.com/Newswire Peristiwa Share :

Efek Hampir Sama, Ini Beda Obat PCC dan Flakka

Penyalahgunaan obat yang bertuliskan PCC yang beredar di Kendari, Sulawesi Tenggara, dan menyebabkan satu orang meninggal dunia.

Solopos.com, KENDARI – Penggunaan obat berlabel paracetamol cafein carisoprodol (PCC) yang memakan puluhan korban di Kendari masih tanda tanya.  Tidak sedikit yang mengatakan bahwa apa yang dikonsumsi para korban tersebut adalah Flakka yang tidak lain merupakan narkoba jenis baru dan disebut-sebut bisa mengubah orang menjadi seperti zombie atau mayat hidup.

Diberitakan Solopos.com, Kamis (14/9/2017), Balai Laboratorium Narkotika Badan Narkotika Nasional (BNN), BNNP Sultra, dan BNNK Kendari, berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memeriksa kandungan obat itu.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) BNN Sulistiandriatmoko di Jakarta, Kamis (14/9/2017), mengatakan pemeriksaan itu terkait berita penyalahgunaan obat yang bertuliskan PCC yang beredar di Kendari, Sulawesi Tenggara, dan menyebabkan satu orang meninggal dunia. Sementara itu, 42 orang lainnya harus dirawat di beberapa rumah sakit di Kendari.

Tidak sedikit yang mengira bahwa apa yang dikonsumsi para korban tersebut adalah Flakka. Terkait hal ini, Staf Ahli Kimia Farmasi BNN Kombes Mufti Djusnir memberikan konfirmasi.

Kombes Mufti mengatakan PCC dan Flakka sangat berbeda. Tablet PCC mengandung zat aktif Crasoprodol sedangkan Flakka itu zat aktifnya sesuai informasi dari United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) adalah Methylene Dioxy Pyrovalerone (MDPV).

“Berbeda. PCC itu zat aktifnya Crasoprodol kalau Flakka itu zak aktifnya MDPV),” ujarnya seperti dilansir Okezone, Jumat (15/9/2017).

Lanjut dia, efek yang ditimbulkan baik pil PCC maupun Flakka pun berbeda. PCC akan mengakibatkan pemakainya kehilangan keseimbangan, sakit kepala yang berlebih sampai denyut jantungnya tidak stabil, kejang-kejang, pingsan hingga tewas.

“Sedangkan Flakka yang merupakan derivat psikoaktif (NPS), efeknya akan membuat orang yang mengkonsumsinya lebih aktif, denyut jantung meningkat, paranoid bahkan sulit mengatasi emosionalnya yang tampak seperti tidak apa2-apa bila terbentur benda keras,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sampai saat ini belum ada laporan secara resmi temuan kasus pengguna Flakka.

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…