Mencari ikan
Kamis, 14 September 2017 20:36 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

Terdampak Proyek BBWSBS, Warga Gandekan Solo Pilih Direlokasi ke Sukoharjo

Warga Gandekan, Solo, yang terdampak proyek penanganan banjir Kali Pepe pilih direlokasi ke Sukoharjo.

Solopos.com, SOLO — Warga di bantaran Kali Pepe, Kelurahan Gandekan, Jebres, Solo, yang terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo paket 1 (Kali Pepe hilir) oleh BBWSBS memilih direlokasi ke Kampung Padasan, Desa Mranggen, Polokarto, Sukoharjo.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Relokasi Warga Bantaran Gandekan, Sumarsih, menjelaskan alasan warga menyepakati pindah atau direlokasi ke Mranggen karena tersedia lahan cukup untuk dibangun 30 rumah, lokasinya mudah diakses, status tanah pekarangan, dan dekat perkampungan warga.

Dia memastikan kepindahan warga Gandekan ke Mranggen tidak akan mengalami kendala perizinan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo. “Warga pilih di sana yang jelas karena tanah sudah pekarangan. Kalau masih masuk sawah, tanah harus dikeringkan dulu. Alhasil kami tidak bisa langsung bangun rumah dan bakal butuh biaya tambahan,” kata Sumarsih saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (14/9/2017) sore.

Sumarsih menyampaikan pengurus Pokja Relokasi Warga Bantaran Gandekan dan warga Gandekan tidak instan dalam menentukan Mranggen sebagai lokasi relokasi warga Gandengan yang terdampak proyek Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) tersebut.

Dia menyebut sedikitnya ada 15 lokasi telah disurvei pengurus Pokja Relokasi dan warga Gandekan sebelum akhirnya memutuskan Mranggen sebagai tempat relokasi. Sumarsih menuturkan warga sempat sreg dengan lokasi di Karanganyar tapi batal dipilih karena harga tanahnya tidak terjangkau.

“Kami menyurvei tempat kurang lebih 15 lokasi di Karanganyar dan Sukoharjo. Di Karanganyar sempat ada yang pas tapi tidak sesuai aturan Pemkot. Pemkot mengharuskan warga membeli lahan relokasi minimal 40 meter persegi. Kami tidak bisa memenuhi syarat itu. Kemudian kami sosialisasi ke warga lagi dan diputuskan ambil Mranggen,” jelas Sumarsih.

Sumarsih menerangkan proses relokasi warga Gandekan kini tinggal menunggu dana bansos pengganti bangunan atau rumah dari Pemkot Solo cair. Warga Gandekan yang menempati rumah di bantaran Kali Pepe sudah siap pindah ke Mranggen.

Dia menyebut sedikitnya 30 keluarga di Gandekan bakal pindah ke Mranggen, yakni 28 keluarga dari RW 003, satu keluarga dari RW 004, dan satu keluarga dari RW 006. Sama seperti warga bantaran di Nusukan, Kadipiro, dan Sangkrah, warga Gandekan juga memperoleh dana bansos dari Pemkot Rp34,2 juta/bangunan.

“Kami juga mendapatkan dana bansos dengan perincian Rp16 juta untuk pengadaan tanah minimal 40 meter persegi, Rp3,2 juta untuk pengadakan fasilitas umum minimal 8 meter persegi, dan Rp15 juta untuk stimulan pembangunan rumah di lokasi baru. Rencananya dalam waktu dekat kami menghadap Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Solo untuk menanyakan soal pencairan dana itu,” ujar Sumarsih.

Sumarsih menuturkan warga Gandekan bisa memperoleh tanah seluas kurang lebih 40,44 meter persegi di Mranggen dengan memanfaatkan dana bansos dari Pemkot senilai Rp16 juta. Dia bersyukur proses relokasi warga Gandekan tidak mengalami kendala seperti warga bantaran Nusukan dan Manahan yang hendak pindah ke Karanganyar.

Warga bantaran Kali Anyar tersebut belum bisa membeli tanah karena terbentur aturan Pemkab Karanganyar soal batas penggunaan lahan untuk perumahan. Sumarsih bersyukur warga Gandekan yang memilih pindah ke Sukoharjo tidak menghadapi masalah.

“Agenda relokasi mudah-mudahan berjalan lancar. Pemerintah Sukoharjo menyadari ini proyek pemerintah pusat terkait program penguatan tanggul di Solo oleh BBWSBS. Kami tinggal menunggu dana cair. Jika rumah baru sudah bisa ditempati, warga bantaran di Gandekan akan pindah. Mudah-mudahan bisa secepatnya,” jelas Sumarsih.

 

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…