Property Expo #7 di Mal Paragon Semarang, Rabu-Minggu (13-24/9/2017). (JIBI/Solopos/antara/Zuhdiar Laeis) Property Expo #7 di Mal Paragon Semarang, Rabu-Minggu (13-24/9/2017). (JIBI/Solopos/antara/Zuhdiar Laeis)
Kamis, 14 September 2017 03:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

PAMERAN SEMARANG
Property Expo #7 Diramaikan 12 Pengembang

Pameran bertajuk Property Expo #7 di Mal Paragon Semarang diramaikan 12 pengembang perumahan.

Solopos.com, SEMARANG — Sebanyak 12 pengembang perumahan mengikuti pergelaran Property Expo #7 yang berlangsung di Mal Paragon Semarang, Rabu-Minggu (13-24/9/2017). “Gelaran ini sudah yang ketujuh kalinya. Trennya, mulai positif,” kata Ketua Panitia Penyelenggara Property Expo Semarang Dibya K Hidayat seusai pembukaan pameran, Rabu.

Ia menyebutkan sebenarnya ada 17 stan yang berpartisipasi dalam pameran perumahan dan properti bertajuk Property Semarang Expo #7 di Mal Paragon, Kota Semarang, Jateng itu. Namun, diakuinya, tujuh stan dimanfaatkan pendukung properti perumahan. Para pengembang properti yang berpartisipasi dalam pameran tersebut, antara lain Citra Sun Garden, Graha Padma, Kini Jaya Indah, serta pengembang apartemen, yakni Candiland Apartment.

Dari penyelenggaraan dua pameran perumahan di Semarang sebelumnya, kata dia, potensi penjualan properti yang dipamerkan terus meningkat, dibandingkan empat kali penyelenggaraan pameran yang sebelumnya lagi. “Ya, ada pencapaian target dari dua kali pameran sebelumnya. Makanya, kami optimistis para pameran ketujuh ini juga sama, mencapai target yang diinginkan,” kata Direktur PT Kini Jaya Indah itu.

Dibya menyebutkan dua kali pameran sebelumnya mampu menjual rata-rata 56 unit sehingga pada pameran kali ini ditargetkan setidaknya 70 unit properti dari berbagai pengembang bisa terjual. “Dua kali pameran sebelumnya sudah bagus, 56-an unit terjual. Memang, pada pameran kali ini pangsanya menengah ke atas. Harga yang ditawarkan untuk properti Rp400 juta ke atas,” katanya.

Diakuinya, segmentasi konsumen menengah ke atas dengan menengah ke bawah berbeda dalam membeli properti karena masyarakat menengah ke bawah membeli rumah pasti untuk ditinggali. “Kalau segmen menengah ke atas kan lebih untuk investasi. Mereka bukan orang Semarang, tetapi punya bisnis di Semarang. Ya, mereka beli rumah juga di Semarang untuk investasi,” katanya.

Pada penyelenggaraan pameran Property Expo yang sudah ketujuh kalinya digelar di Kota Semarang itu, lanjut dia, ada pula konsumen dari luar Semarang yang membeli properti meski kebanyakan memang dari Semarang. Mengenai bisnis properti, Dibya menjelaskan selama ini masih menjadi salah satu bisnis paling yang aman dan menjadi penyumbang pajak yang cukup besar bagi pendapatan negara.

“Makanya, kami mengharapkan dukungan pemerintah untuk memberikan stimulasi khusus untuk properti, misalnya dari Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang bunganya diperingan,” katanya. Meski fixed rate atau rentang suku bunga tetap sudah agak diperpanjang hingga tiga tahun, lanjut dia, suku bunga KPR masih mencapai 9,99%, padahal idealnya di kisaran 7,5%.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
STAFF ADMINISTRASI & KEUANGAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…